Dia Syahidah
“Assalamu’alaikum warahmatullah.” Seorang wanita menyempil duduk di samping diriku. Dia adalah Syahidah, wanita yang semalam menanti diriku di belakang bak ambulans. Bisa dibilang ia teman seperjuanganku, kami menjadi tenaga medis kurang lebih tiga tahun, saat usia kami tujuh belas tahun. Kulit sawo matang, tatapan tajam dan ekspresi tegas adalah ciri khas darinya. Namun di balik senyumnya menyisakan rasa teduh saat melihat.
“Wa’alaikumussalam…,” jawabku singkat.
“Makanlah. Aku tau kau tidak makan apa-apa saat sahur tadi.” Syahidah menyodorkan 3 biji kurma dalam plastik kecil.
Aku menggeleng, “Biarkan aku puasa.”
Syahidah menghembuskan nafas panjang, ia menyelonjorkan kakinya.
“Jika kau memaksakan puasa dengan keadaan yang sudah setengah sadar begini, bisa bisa kau ambruk nanti saat mendorong brankar.”
“Tak apa, setidaknya jika aku tak sahur di dunia maka aku bisa berbuka di surga.”
Syahidah terkekeh di sampingku, ia ikut menyenderkan tubuhnya. “Kalau kau syahid hari ini, siapa yang akan mendorong brankar? Siapa yang bisa ku sapa saat nanti mengangkut korban dari dalam ambulans ku? Sudahlah. Jasamu masih di perlukan disini.”
Aku membalasnya dengan senyuman dan ku ambil satu biji kurma yang ia tawarkan. Sedang ia juga ikut mengambil satu biji kurma untuk kami makan bersama, sisanya ia simpan dalam saku. “Bismillah.”
Percakapan kami berlangsung tak lama, sekitar sepuluh menit kemudian aku dan Syahidah sudah tenggelam dengan kesibukan masing-masing. Syahidah dengan panggilan tugasnya melesat ke daerah yang baru saja di runtuhkan oleh zionis tak beradab. Sedangkan aku yang sudah siap mendorong kembali brankar dan menjemput para korban jiwa.
Seiring waktu berjalan, puluhan hingga ratusan korban berjatuhan. Rumah sakit sumpek dengan rintihan para korban, bau anyir darah tersebar di seluruh titik. Hingga brankar yang dimiliki rumah sakit tak mampu menampung satu persatu korban. Seorang Ayah menggendong putri kecilnya dalam keadaan gemetar, meminta bantuan “tolong… tolong…,” hingga seorang anak laki-laki remaja membopong badan Ibunya dengan tetesan darah bercucuran.
Empat puluh delapan jam kemudian sungguh tak terasa telah berlalu, ratusan korban tak henti-hentinya memasuki rumah sakit. Sungguh, terkutuklah para zionis. Tenaga medis lainnya mengerahkan usaha lebih, mereka sigap kiri dan kanan menangani para korban. Hingga aku tak menyadari beberapa hari ini tak pernah melihat Syahidah dan Ambulans yang biasa ia bawa sejak terakhir kali kami bertemu. Aku tak berfikir panjang mengenai Syahidah saat itu, hingga aku di sadarkan oleh korban selanjutnya yang aku bawa.
“Ya Allah Syahidah…” linangan air mataku terjatuh seiring langkahku tak berhenti mendorong brankar. Tak tau sudah terjadi apa selama empat puluh delapan jam kemarin, hingga Syahidah yang berbaring di atas brankar dengan kondisi setengah badan bagian atas terlihat mengenaskan, terlebih tangan kirinya penuh berlumuran darah. Jika saja lengan panjang tak menutupi, entah bagaimana aku bisa melihatnya.
“La illa ha-illa anta subhanaka inni kuntu minadzholimiin,” gumam Syahidah. Dalam kondisi seperti ini pun, senyumnya masih terukir di wajah Syahidah. Sekujur tubuhku merinding melihat dirinya.
Syahidah pun langsung di masukkan ke dalam ruang IGD, lagi-lagi Dokter Salamah menyambut para korban dengan penuh senyum dan tegar. Sekian detik sebelum ia ikut menyelam di dalam ruang, ia menoleh ke arah ku seraya mengangguk seperti hendak mengatakan, “Tegarlah nak sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar.” Seketika ku hapus air mata, dari luar ruang ini ku lantunkan ribuan doa khususnya untuk sahabatku Syahidah dan para korban lain yang ada di dalam sana.
Delapan jam kiranya, sejak Syahidah masuk ke dalam ruang IGD. Sekarang aku sedang berganti shift istirahat dengan rekan kerjaku, hanya duduk di tepi koridor, membawa segelas air minum dan lagi-lagi sepotong kurma.
“Kamu mau menikmati kurma itu sendiri?” ucap seseorang yang tak asing lagi dari suaranya.
“Ya Rabb… Dokter Salamah,” aku berdiri mempersilahkan Dokter Salamah duduk di sampingku.
Sebenarnya banyak yang ingin ku tanyakan, hanya saja aku tahan karna baru ini melihat beliau mengambil istirahat.
“Temanmu, Dia sungguh sangat kuat sekali. Baru ini aku melihat wanita sekuat dirinya. Dia sudah bisa kau jenguk jika mau di ruang perawatan,” ucap Dokter Salamah.
Aku menangguk pelan, segera permisi meninggalkan Dokter Salamah menuju ruangan yang dimaksud. Sesampainya aku di dalam ruang, aku di sambut dengan senyumnya yang semakin membuat hati merasa teduh.
“Tak apa masuklah kemari,” ucapnya.
Aku perlahan masuk mendekati Syahidah, seketika langkahku terhenti dua langkah melihat tangan kiri Syahidah. Syahidah melirik tangan kirinya, menoleh lagi ke arahku.
“Sudahlah, jangan terkejut seperti itu. Anggap saja jika namaku Syahidah maka tangan kiriku sudah lebih dulu syahid. Lihatlah tangan kananku masih bisa di gerakan.” Syahidah menggerak gerakkan tangan kanannya.
Aku tersenyum melihat semangatnya, berjalan semakin dekat ke tempat Syahidah terbaring.
“Kau tahu Zahro, setelah aku mengalami hal yang sangat mengerikan empat puluh delapan jam belakang dan mendapati tanganku seperti ini sekarang. Semangatku justru semakin menggebu-gebu untuk terus membantu saudara-saudari kita.” Syahidah terdiam sejenak melihat diriku, pandangannya meraba dari kepala hingga kakiku.
“Aku menyadari satu hal terkuat dari setiap tubuh kita. Lihatlah tangan kananku yang nantinya akan lebih kuat memopong para korban dan lihatlah kedua kakimu, yang tetap berlari mendorong brankar walaupun jika ia bisa bicara pasti sudah protes lelah,” sambungnya.
Aku menyetujui perkataannya, “Benar yang kamu bilang. Masing-masing dari kita Allah titipkan sesuatu kekuatan dan pastinya kekurangan. Syahidah, kekuatanmu tak hanya pada tanganmu tapi pada senyummu yang tak pernah luntur dalam keadaan apapun. Sedang diriku, kadang masih suka untuk mengeluh.” Aku tertunduk malu.
Syahidah menggapai tanganku, ia mengenggamnya dengan lembut.
“Kamu lebih dari yang di ucapkan Zahro. Allah sungguh mengetahui sedang kamu tidak. Sungguh apa yang kita lakukan sekarang adalah hal yang dirindukan ahlul surga,” ujar Syahidah di bumbui senyumnya.
Genggaman Syahidah seakan memberiku kekuatan kembali, ia benar-benar seorang mujahid yang jiwanya telah di ikhlaskan untuk syahid di jalan Allah SWT. Sedangkan aku telah meyakinkan diriku bahwa kedua kaki ini sebagai jalan untuk berjihad. Saat ini aku percaya setiap langkah seorang mujahid adalah doa hidup untuk keadilan. Mereka adalah penjaga kebenaran, melibas jalur perlawanan dengan tekad yang tak tergoyahkan.
Palestina, mujahidmu adalah pahlawan pembela harapan dan kebebasan.
Masyaallah suka dengan karyanya di tunggu karya selanjutnya ustadzah