MASKANULHUFFADZ.COM – Haflah Akhirussanah Maskanul Huffadz banjir limpahan keberkahan. Acara ini dilaksanakan pada rabu, 27 Agustus 2025 di Gedung Omotesando, Mall Bintaro. Haflah Akhirussanah ini diagendakan untuk 12 santri pprogram regular dan 18 santri program I’dad.
Acara berlangsung dengan khidmat, yang dihadiri oleh berbagai tokoh penting baik dari internal pesantren maupun aparat pemerintah, dan masyarakat kecamatan Pondok Aren.
Sebanyak 30 santri mengikuti prosesi kelulusan. Kegiatan ini menjadi momentum yang sangat berkesan dan bersejarah bagi para santri. Sebab para santri yang bergabung pada dua program ini rata-rata merupakan para pemula atau masyarakat umum yang baru belajar dan menghafalkan Al-Qur’an.
Dalam wawancara bersama Melati (21) asal Bangka Belitung. Ia menggambarkan betapa besar perubahan yang ia rasakan sejak memutuskan untuk menempuh program I’dad. Ia menuturkan alasannya, proses yang dilalui, hingga pengalaman berkesan yang membuat perjalanan setahun bersama Al-Qur’an begitu berharga.
“Sebelum program I’dad, saya belum punya hafalan dan bacaan saya masih jauh dari kaidah ilmu tajwid. Alhamdulillah 10 bulan belajar saya berhasil menyelesaikan bacaan Al-Qur’an 30 juz Binnadhor bersama guru pembimbing dan tasmi’ 1 juz di akhir program. Tentunya, perjuangan ini banyak tantangannya, melewati hari-hari penuh ujian, air mata, dan proses panjang. Proses belajar di Maskanul Huffadz ini sangat memberikan dampak dalam hidup saya terutama bagi saya yang baru belajar hijrah, di sini saya juga dibekali dengan berbagai tsaqafah Islamiyah sebagai dasar pengetahuan keislaman bagi saya,” ujarnya dengan haru.
Sejalan dengan itu, Umma Oki selaku pimpinan pesantren juga menguatkan bahwa perjuangan bersama Al-Qur’an itu sangat berat maka para santri jangan sampai menyia-nyiakannya setelah tamat.
“Menghafalkan Al-Qur’an itu adala proses panjang yang perjuangannya berat. Maka teruslah berpegang teguh dengan Al-Qur’an, jadikan ia sebagai landasan dalam setiap langkah dan perilaku. Di manapun kalian berada, dalam profesi apa pun kalian berkarya, mulailah segalanya dengan Al-Qur’an dan jadilah pembawa manfaat. Apa pun jalan hidup yang ditempuh, tetaplah menjadi pelayan Al-Qur’an, dan mintalah kekuatan hanya kepada Allah agar setiap amal dimudahkan,” ujar Umma Oki.
Dalam acara Haflah Akhirussanah tersebut, dua santri dianugerahi penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan mereka. Aqila Nizara Hulwah dinobatkan sebagai santri terbaik, sementara Biana Tiara Hanifah meraih predikat santri teladan.
Menjelang penutupan acara, para wali santri dan undangan turut memberikan apresiasi berupa hadiah kepada santri tersebut, di antaranya uang saku dan beasiswa pendidikan. Tercatat enam wali santri berkontribusi dalam memberikan apresiasi dengan nominal mencapai Rp3 juta per santrinya. Bahkan, dalam momentum ini juga ada wali santri yang mewakafkan sebuah rumah untuk dijadikan cabang baru Maskanul Huffadz.
Haflah ini diharapkan menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran akan keberkahan Al-Qur’an, memotivasi masyarakat untuk berbuat kebaikan. Serta menumbuhkan semangat dalam mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an.