MASKANULHUFFADZ.COM – Antara fakta dan mitos, 2026 dianggap sebagai tahun ancaman bagi sebagian orang. Argumen ini muncul disebabkan oleh banyak faktor, di antarnya masalah mental, sosial, dan ekonomi.

Kondisi ini semakin diperparah dengan perkembangan digitalisasi dan percepatan informasi yang setiap harinya mengalami kemajuan. Hal ini berpengaruh pada ancaman hilangnya lapangan pekerjaan, ketimpangan peluang, kompetisi yang ketat, dan akhirnya menyebabkan dehumanisasi.

Kondisi ini tidak hanya bepengaruh pada tampilan fisik namun juga sangat berdampak besar pada psikologi seseorang, di antaranya stres dan tekanan mental akibat takut kalah saing, kecemasan tidak mencapai target, anxiety, overthingking, defensive, dan berbagai permasalahn psikologi lainnya.

Kondisi-kondisi seperti inilah yang mengkibatkan tekanan batin bagi seseorang, akhirnya menimbulkan rasa Self Doubt (keraguan diri) dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin ketat dan menekan.

Namun, perlu diperhatikan sikap Self Doubt ini jika diperturutkan dapat mengkibatkan hilangnya kepercayaan diri, menghambat kesuksesan, penurunan produktivitas, dan kesulitan dalam mengambil keputusan.

Menanggapi kondisi ini, ternyata 14 abad yang lalu peristiwa ini juga pernah dirasakan oleh para nabi. Salah satunya kisah Nabi Musa saat menghadapi Firaun, kisahnya terekam jelas dan lengkap dalam Quran surah Thaha ayat 25-35.

Cara Nabi Musa Mengatasi Self Doubt

Bermula dari Nabi Musa mendapat perintah menghadapi Firaun dan membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Tentunya ini adalah tugas yang besar, sementara ketika itu Nabi Musa merasa sangat banyak keterbatasan. Melihat kehebatan Firaun dengan kekuatan dan banyaknya pasukan, hal ini mempengaruhi mental Nabi Musa. Kondisi ini tergambar dengan jelas dalam Quran surat Thaha ayat 25-28:

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku”

Ayat ini bukan hanya sebuah permohonan, tetapi ungkapan kejujuran Nabi Musa yang sangat butuh bantuan dari Allah atas kelemahannya. Nabi Musa merasa terbebani dengan perintah ini, namun dalam satu sisi ia tidak menemukan solusi. Ini juga yang mengakibatkannya ragu untuk menjalankan perintah dakwah. Ia merasa lawan yang dihadapinya tidak sebanding dengan kemampuan yang dimilikinya. Namun, dalam konteks ini Nabi Musa hanya bisa berserah dan memohon pertolongan dari Allah agar perintah tersebut dapat dijalankannya.

Kisah Nabi Musa ini mengajarkan kita pentingnya membangun hubungan dengan Allah. Dalam doa yang diutarakannya, Nabi Musa tidak hanya meminta kelapangan hati dan kemudahan, tetapi juga keberanian menjalani tugas yang sulit.  Tidak hanya itu, Nabi Musa juga mengajarkan strateginya dalam memecahkan keraguan, ia mulai menyelesaikan misi dari hal kecil dan sederhana, seperti bicara dengan Firaun, perlahan menyampaikan pesan kebenaran, hingga memimpin ummatnya dengan sabar.

Refleksi dengan kondisi kehidupan sekarang, Self Doubt tentunya perkara yang familiyar teutama dalam kehidupan generasi muda. Kisah Nabi Musa memberikan inspirasi bahwa sekelas nabi juga pernah merasakan cemas dan rasa takut. Namun demikian, dalam kisah ini juga diberikan jawaban tentang pentingnya menerima keterbatasan, meminta bantuan, dan menjalani proses dengan perlahan.

Dalam psikologi rasa takut dan cemas merupakan sikap alamiah yang harus diakui, namun sikap ini bisa dipecahkan dengan menyerahkan keyakinan pada Allah, meminta dukungan dari orang terdekat, dan langkah kecil yang konsisten.

Nah, dari kisah Nabi Musa ini kita mendapat pelajaran bahwa Self Doubt tidak hanya tentang kurangnya usaha namun bisa jadi sebab kita belum menyerahkannya pada Allah. Mari, jalani 2026 dengan percaya diri, terus belajar, dan kumpulkan bekal sebanyaknya.

Leave a Reply