MASKANULHUFFADZ.COM – Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan sejarah yang banyak mengandung banyak hikmah. Peristiwa yang hanya bisa diyakini dengan keimanan. Istimewanya peristiwa ini khusus dialami Rasulullah, dan output dari peristiwa ini adanya kewajiban shalat, yang merupakan perintah paling utama dilakukan bagi umat Islam.

Tidak hanya itu, peristiwa ini juga mengandung berbagai ibrah dan pelajaran hidup sebagai penguatan karakter. Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Ishaq peristiwa isra’ mi’raj ini banyak terdapat ibrah bagi orang yang berakal, mendapatkan hidayah, rahmat, serta keteguhan hati bagi orang yang beriman dengan tulus.

Beberapa nilai-nilai karakter yang terkandung dari peristiwa Isra’ Mi’raj:

  1. Nilai Religius

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini mengajarkan kepada manusia untuk kembali menguatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah. Peristiwa ini mendidik manusia untuk kembali dekat dengan Allah dengan membangun hubungan spiritual berupa kewajiban shalat lima waktu.

  1. Adab, Sopan Santun, dan Sikap Ramah

Nilai ini tercermin dari interaksi dan komunikasi yang dilakukan Rasulullah dengan para nabi ketika hendak masuk ke lapisan langit. Sebelum berpindah dari satu langit ke langit berikutnya Rasulullah diajarkan adab dan tatakrama oleh Jibril untuk membaca salam dan meminta izin sebelum masuk ke wilayah orang lain.

Kemudian kami naik ke langit (pertama) dan Jibril minta izin untuk masuk, maka dikatakan (kepadanya), “Siapa engkau?” Dia menjawab, “Jibril”. Penjaga itu bertanya lagi, “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dia bertanya lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan pintu langit untuk kami.

  1. Empati dan Kasih Sayang

Peristiwa Isra’ Mi’raj ini menceritakan kasih sayang dan kepedulian Rasulullah pada ummatnya. Hal ini terlihat saat beliau meminta keringanan shalat pada Allah atas saran dari Nabi Musa. Perintah yang awalnya 50 kali sehari yang tentunya sangat memberatkan bagi umat Nabi Muhammad. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah berulang kali meminta keringanan pada Allah hingga ditetapkan lima kali setiap hari.

  1. Rasa Keinginantahuan yang Tinggi

Dalam perjalanan menyusuri langit hingga bertemu Allah, Nabi Muhammad senantiasa bertanya pada Jibril mengenai hal-hal yang tidak diketahui, seperti dalam riwayat Imam Bukhari beliau menanyakan 4 sungai di Sidratulmuntaha dan dalam Riwayat Muslim beliau menanyakan perihal sosok-sosok yang beliau temui di setiap lapisan langit.  Hal ini menujukkan bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang cedas dengan rasa keingintahuan yang tinggi.

  1. Mencintai Musyarawarah dan Senantiasa Rendah Hasil

Bentuk kerendahan hari Rasulullah dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ini tergambar dari penerimaannya atas saran dan masukan dari Nabi Musa perihal beratnya beban shalat yang harus dijalankan ummatnya. Nabi Musa merupakan sosok yang berpengalaman menghadapi ummatnya. Sehingga sebagai seorang yang biijak tentunya Rasulullah berdiskusi terlebih dahulu dengan orang yang berpengalaman, lalu mempertimbangkan, dan memikirkan dampak dari keputusan yang diambil sehingga mendapatkan keputusan yang tepat.

Dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini, banyak nilai kehidupan yang dapat kita pelajari. Isra’ Mi’raj bukan hanya tentang upacara turunnya perintah shalat, namun ada nilai-nilai spiritual dan karakter yang diajarkan di dalamnya. Seperti, Adab, Sopan Santun, Sikap Ramah, Empati, Kasih Sayang, Rasa Ingin Tahu, dan Musyawarah.

Leave a Reply