MASKANULHUFFADZ.COM – Sya’ban merupakan bulan diangkatnya amalan setahun manusia di hadapan Allah. Sehingga jumhur ulama berpendapat berpuasa di bulan Sya’ban sangat dianjurkan. Hal ini dijelaskan langsung dalam hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.
Bulan tersebut adalah bulan diangkatnya amal perbuatan kepada Rabb semesta alam, maka aku menginginkan amalanku diangkat saat aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)
Bulan ini merupakan momentum tutup buku tahunan bagi amalan manusia. Nah, pada saat inilah rekapitulasi seluruh catatan amal diserahkan pada Allah. Tentunya kita ingin pada saat peristiwa istimewa tersebut kita menginginkan catatan terakhirnya dalam kondisi beramal. Sebagaimana Rasulullah memberikan teladan kepada kita, beliau ingin saat malaikat mengangkat buku amalannya dan menyerahkan pada Allah dalam kondisi berpuasa. Puasa merupakan simbol dari ketundukan, penahan hawa nafsu, dan keikhlasan seorang hamba. Selain itu, puasa merupakan amalan yang menjadi magnet bagi amalan baik lainnya, pada saat berpuasa seorang hamba akan lebih berhati-hati untuk bermaksiat.
Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan waktu puasa Sya’ban ini dilaksanakan, khususnya setelah nisfu sya’ban. Pandangan ini berdasarkan pada hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah.
“Apabila telah masuk pertengahan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa,” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
-
Pendapat yang Mengharamkan
Menurut sebagian ulama termasuk Imam Ahmad, ia menekankan melarang puasa sunnah setelah 15 Sya’ban kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa puasa di bulan-bulan lainnya.
-
Pendapat yang Membolehkan
Mayoritas ulama, termasuk Imam Nawawi dan Ibn Hajar, memahami hadits tersebut sebagai larangan bersifat makruh, bukan haram. Mereka membolehkan puasa jika diniatkan untuk menyempurnakan puasa sunnah atau puasa qadha.
-
Pendapat Imam Syafi’i
Mazhab Syafi’i membolehkan puasa setelah Nisfu Sya’ban jika telah terbiasa melakukannya, seperti puasa Senin-Kamis, atau jika bertujuan untuk memperbanyak ibadah sebelum Ramadan.
Adapun pendapat yang melarang puasa setelah Nisfu Sya’ban berlandaskan pada tiga alasan berikut:
1) Puasa sunnah yang ditekankan sebelum Ramadhan.
Bagi yang terbiasa melakukan puasa sunnah seperti Senin-Kamis atau puasa Daud, puasa setelah Nisfu Sya’ban diperbolehkan. Rasulullah SAW bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten,” (HR. Bukhari dan Muslim).
2) Puasa untuk Menyelesaikan Qadha
Jika seseorang masih memiliki tanggungan puasa wajib dari Ramadan sebelumnya, maka diperbolehkan berpuasa setelah Nisfu Sya’ban untuk menggantinya.
3) Larangan Puasa Tepat Sebelum Ramadan
Rasulullah melarang puasa sehari atau dua hari menjelang Ramadan tanpa alasan tertentu. Dalam hadits, beliau bersabda:
“Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian, meskipun ada pendapat yang melarang puasa setelah NIsfu Sya’ban, hal ini hanya ditekankan bagi mereka yang baru memulai puasa pada hari tersebut dan tidak punya kebiasaan sebelumnya. Adapun bagi yang sudah terbiasa dengan puasa sunnah serta mereka yang memiliki kewajiban puasa qadha, maka diperbolehkan untuk melaksanakan puasa Sya’ban.










