MASKANULHUFFADZ.COM – Malam Nisfu Sya’ban merupakan malam ke-15 dari bulan Sya’ban. Banyak keutamaan dan kemuliaan pada malam ini. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis shahih Riwayat Aisyah.
“Sesungguhnya Allah turun pada malam Nishfu Sya’ban ke langit dunia. Lalu, Dia mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu kambing milik kabilah Bani Kalb (salah satu kabilah yang banyak memiliki kambing),” (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini menjelaskan tentang kemuliaan Nisfu Sya’ban. Berbeda dengan malam-malam biasa, pada umumnya kemuliaan itu hanya Allah berikan pada sepertiga malamnya. Namun khusus pada malam Nisfu Sya’ban Allah memulainya dari awal malam. Dalam hadis di atas Rasulullah hanya menerangkan bahwa pada malam tersebut beliau memperbanyak ibadah untuk memohon ampunan dari Allah tanpa menyebutkan secara spesifik amalannya. Sehingga, para sahabat hanya memperbanyak amalan, ada yang shalat tahajud, istighfar, baca Al-Qur’an, dan amalan-amalan lainya.
Lebih lanjut, adapun yang berpendapat tentang hukum puasa pada Nisfu Sya’ban ada perbedaan pendapat.
Pertama, menurut Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa puasa Nisfu Sya’ban hukumnya sunnah karena mengikuti kebiasaan Rasulullah yang banyak berpuasa di bulan Sya’ban.
Kedua, Mazhab Hanafi cenderung memperbolehkan puasa Nisfu Sya’ban sebagai amalan sunnah.
Ketiga, Mazhab Maliki dan Hanbali menyatakan bahwa apa hukum puasa Nisfu Sya’ban tidak memiliki dalil yang kuat secara khusus, namun berpuasa di bulan Sya’ban tetap dianjurkan.
Terlepas dari beberapa pendapat tersebut, yang perlu diperhatikan puasa pada pertengahan Sya’ban bersamaan dengan puasa Ayyum al Bidh maka puasa pada waktu tersebut dihukumi sunnah.
Adapun berkaca dari kebiasaan para ulama dalam mengisinya, mereka terbiasa dengan melakukan amalan-amalan khusus. Berikut tiga ulama salaf yang menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan amalan-amalan khusus:
Ibnu Al Jauzi
Merupakan ulama yang menganjurkan untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan beribadah. Dalam kitabnya pun disampaikan bahwa malam Nisfu Sya’ban itu adalah malam yang mulia. Setiap hamba akan diampuni dosanya keculia bagi yang ingkar.
Ibnu Taimiyyah
Ibnu Taimiyyah berpandangan mengkhususkan satu amalan pada malam Nisfu Syaban termasuk pada bid’ah, seperti shalat sunnah 100 rakaat dengan bacaan 100 kali surah Al-Ikhlas termasuk bid’ah dan tidak pernah disunnahkan oleh para ulama. Tetapi untuk mendirikan shalat sunnah sendiri atau berjamaah pada malam tersebut maka hal itu dicontohkan dan diamalkan oleh ulama salaf.
Ibnu Rajab Al-Hanbali
Ibnu Rajab Al-Hanbali merupakan ulama Hanbali yang menganjurkan menghidupkannya. Dalam kitabnya Lathaif al-Ma’arif ia mengatakan bahwa seorang mukmin sebaiknya meluangkan waktunya pada malam Nisfu Sya’ban untuk perbanyak zikir, berdoa, dan meminta ampunan, sebab pada mala mini semua taubat manusia diterima Allah. Serta dianjurkan juga untuk shalat di malam tersebut karena tengah bulan Sya’ban itu adalah malam yang mulia.
Berdasarkan penjelasan di atas maka sangat jelas diuraikan kemulian malam Nisfu Sya’ban. Dengan demikian agar kemulian tersebut dapat kita raih maka isilah dengan amalan-amalan terbaik.










