MASKANULHUFFADZ.COM – Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib untuk diyakini. Pengwajiban ini dilandaskan dengan banyaknya hikmah yang Allah hadirkan saat menjalankan puasa Ramadhan. lebih lanjut Syaikh Shabuni menyebutkan ada empat hikmah di antaranya:
Puasa adalah ibadah yang disyariatkan untuk melatih rasa patuh dan tunduk pada Allah, melatih jiwa dan membuatnya terbiasa dalam menanggung beban kepayahan di jalan Allah, serta melatih agar lebih peka terhadap lingkungan, sesama manusia, membersihkan jiwa, melatih rasa takut kepada Allah, hal ini akan melebutkan hati.
Namun perlu diperhatikan agar mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut maka seorang muslim patut memperhatikan puasanya sesuai dengan syariat. Salah satunya niat, sebab niat adalah poin penting kedudukan sebuah ibadah dinilai berpahala atau tidak.
Kedudukan niat dalam puasa, dijelaskan dalam hadis Hafshah Ummul Mukminin:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
“Barang siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR Abu Dawud).
Menilik hadis tersebut, dapat dikatakan orang yang tidak melakukan niat puasa fardhu pada malam hari maka puasanya tidak sah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pun menjelaskan makna hadis ini, bahwa para ulama sepakat bahwa ibadah yang seperti shalat, puasa, dan haji maka tidak sah kecuali dengan niat.
Lantas, dalam masyarakat ada pendapat yang berkembang mengenai pengerjaan niat puasa pada bulan Ramadhan. Dikarenakan puasa Ramadhan dilaksanakan sebulan penuh maka masyarakat berasumsi niatnya bisa digabungkan dalam satu niat.
Menanggapi hal tersebut, ulama fiqih menjelaskannya berdasarkan perbedaan mazhab.
-
Mazhab Syafi’i
Niat itu hanya diwajibkan di dalm hati, adapun pengucapan dengan lisan tidak wajib, hanya sebagai penegasan. Diharuskan dibaca pada malam hari sebelum terbitnya fajar dan diulang setiap malamnya.
-
Mazhab Hanafi
Niat melaksanakan puasa Ramadhan dilaksanakan dua tempat, yakni pertama setelah terbenamnya matahari. Hal ini dikarenakan untuk mengetahui waktu awal terbeit fajar sangat sulit dan waktu tersebut waktu rawan untuk mengantuk dan lalai. Sehingga untuk mempermudah maka dilakukan setelah matahari terbenam. Pendpat kedua diperbolehkan meniatkan puasa setelah fajar hingga pertengahan hari atau sbelum zuhur.
-
Mazhab Malikiyyah
Niat dilakukan di malam hari yakni setelah matahari terbenam hingga bersamaan dengan fajar. Dan cukup dilakukan di awal malam dengan niat puasa Ramadhan selama satu bulan penuh.
-
Mazhab Hanbali
Pendapat madzhab Hanbali dalam masalah waktu niat puasa Ramadhan sama dengan madzhab Syafi`i, yakni harus dilakukan di malam hari setiap hari bulan Ramadhan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa asumsi masyarakat mengenai bolehnya jamak niat puasa di bulan Ramadhan memiliki dasar yang dibenarkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Mazhab Maliki, yang membolehkan niat puasa Ramadhan untuk satu bulan penuh sebagai bentuk kehati-hatian. Pendapat ini diambil untuk mengantisipasi kemungkinan terlewatnya niat pada salah satu malam, sehingga puasa tetap dinilai sah.










