MASKANULHUFFADZ.COM – Akhir-akhir ini Toxic Productivity dianggap suatu hal lumrah terutama bagi kalangan anak muda yang memandang kesibukan sebagai produktivitas. Tapi, jika ditelusuri sikap seperti ini bukanlah tindakan positif, sebab Toxic Productivity hanya akan menyebabkan tekanan. Produktif itu baik bahkan disuruh dalam Al-Quran.

“Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain)” Qs. Al-Insyirah Ayat 7

Satu hal yang perlu dicatat, produktif yang dimaksud dalam ayat ini ada ketentuannya. Bukan semua kesibukkan bisa disebut sebagai produktif, sama halnya dengan Toxic Productivity.

Toxic Productivity adalah sikap obsesi yang tidak sehat, sikap ingin terus menerus produktif, sehingga dengan sikap tersebut membuat seseorang merasa bersalah jika ia beristirahat, mereka bahkan cemas jika tidak beraktivitas.

Nah, Toxic Productivity dipengaruhi oleh hustle culture yaitu budaya yang mengagungkan kesibukkan tanpa henti. Bekerja tanpa istirahat dianggap sebagai pencapaian yang diagungkan, akibatnya sesorang kehilangan batas antara pekerjaan dan pribadi, akhirnya terganggu pada kesehatan mental dan fisik.

14 abad yang lalu ternyata Toxic Productivity juga pernah dialami oleh sahabat Rasulullah. Abu Darda adalah seorang sahabat yang dikenal semangat dalam beribadah bahkan sampai mengabaikan kebutuhan dirinya dan keluarganya.

Sampai suatu hari Salman Al-Farisi menegur sikap Abu Darda tersebut. Salman melihat pakaian istri Abu Darda begitu lusuh, saat ditanya istrinya menjawab bahwa Abu Darda sibuk dalam ibadah.

Salman pun menasehatinya, “Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu, tubuhmu mempunyai hak atasmu, dan keluargamu mempunyai hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak akan haknya.”

Keesokan harinya Rasulullah pun membenarkan nasihat Salman, dan penjelasan ini termaktub dalam hadis shahih Al-Bukhari.

Dari kisah sahabat di atas sangat jelas betapa rapi islam mengatur semua kehidupan manusia, bahwa dalam hidup ini ada porsi dan haknya yang semuanya harus ditunaikan. Islam mengajarkan tawazun (keseimbangan), bukan berlebihan dalam segala hal. Termasuk dalam urusan pekerjaan, Allah menciptakan siang sebagai ladang bekerja lalu malam untuk beristirahat. Pergantian waktu ini memiliki fungsi dan haknya masing-masing.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS Ar Rum ayat 23).

Luar biasa bukan? Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap. Setiap aturan yang diberikan untuk manusia semuanya kebaikan. Saat manusia tidak menjalankannya dengan baik maka kerugianlah yang akan dirasakannya.

Leave a Reply