MASKANULHUFFADZ.COM – Hidup itu sifatnya dinamis, setiap pergantian waktunya ada dinamika masing-masing. Terkadang bahagia, sedih, dan kecewa, bahkan ada orang yang gila menghadapi dinamika kehidupan ini. Terlebih dengan perkembangan teknologi yang semakin memudahkan orang untuk memperoleh informasi, hal ini menyebabkan tingkat stress dan tekanan semakin meningkat. Dalam World Happiness Report 2026, 39,1% pengguna berat media sosial melaporkan sering mengalami stress lebih tinggi dibandingkan 33,8% pada pengguna dengan intensitas penggunaan rendah hingga sedang.

Data ini menggambarkan bahwa media sosial sangat berpengaruh besar terhadap tingkat stress seseorang. Akibatnya, efek negatif dari seringnya mengonsumsi informasi dari media sosial menyebabkan pola pikir yang mulai bergeser dari koridornya, seperti suka membandingkan diri denagn capaian orang lain, membenci diri sendiri, banyak menyesal dan mengeluh, serta merasa ingin mengakhiri hidup.

Hal tersebut dapat dicegah dengan beberapa tips:

Pertama, Fokus Pada Tujuan

Kita seringkali terpapar dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Fenomena ini medorong untuk membandingkan pencapaian, penampilan, hingga gaya hidup dengan standar orang lain. Akibatnya muncullah sikap merendahkan diri sendiri, cemas, kecewa, dan merasa tidak cukup. Melihat kondisi ini maka antisipasi yang dapat dilakukan dengan memahami konsep sendiri lebih baik. Konsep ini bukan mengajak seseorang untuk antisosial tetapi merujuk pada kemandirian emosional, yakni kondisi dimana seseorang tidak menggantungkan harga dirinya pada opini orang lain. Sikap ini dapat melatih diri lebih fokus pada tujuan hidup, sehingga setiap harinya seseorang menjadi lebih produktif untuk memperbaiki diri.

Kedua, Jangan Cari Validasi

Pernahkah nggak sih merasa cemas jika tidak mendapat respons dari orang lain? Merasa tenang hanya jika dipuji, dan merasa gagal saat tidak di notice?

Waspada, ini ciri-ciri hidup tengah haus validasi. Kebutuhan akan pengakuan, dukungan, dan persetujuan orang lain hanya akan membuat hidup bergantung pada orang lain. Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap bijak dalam menampakkan maupun menyembunyikan nikmat yang dimiliki. Tidak semua hal perlu diumbar, dan tidak semua pencapaian harus diketahui banyak orang. Rasulullah mengingatkan dalam hadisnya:

“Minta tolonglah atas keberhasilan rencana-rencana kalian dengan merahasiakannya karena setiap pemilik nikmat ada peluang hasadnya.” (HR. Thabrani)

Pada akhirnya, nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya perhatian, pujian, atau pengakuan yang diterima. Pujian dapat datang dan pergi, begitu pula penilaian orang lain yang terus berubah seiring waktu. Jika kebahagiaan disandarkan pada validasi manusia, maka hati akan mudah gelisah ketika pengakuan itu tidak lagi hadir. Namun, ketika seseorang menyadari bahwa yang paling penting adalah keridaan Allah, ia tidak lagi sibuk mengejar tepuk tangan manusia. Sebab tidak semua nikmat harus dipamerkan, tidak semua keberhasilan perlu diumumkan, dan tidak semua kebahagiaan harus dibuktikan kepada orang lain.

Ketiga, Jangan Terobsesi dengan Kehidupan Orang Lain

sosial media memberikan peluang besar untuk melihat kehidupan orang lain. Semua pencapaian, segudang prestasi, dan kesempurnaan hidup tergambar sebagai pencitraan. Hal ini menyebabkan kita mudah kagum dan akhirnya teropsesi menjadikan hidup mereka sebagai tolak ukur kesuksesan. Mengagumi orang lain adalah suatu yang baik, namun jika berlebihan sikap tersebut mengakibatkan kufur nikmat.

Bahkan Allah menegaskan dalam firmannya, Qur’an surah Thaha ayat 131:

“Janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”

Ayat ini mengingatkan agar manusia tidak terpesona oleh apa yang dimiliki orang lain. Harta, jabatan, dan kemewahan dunia hanyalah titipan yang suatu saat akan berakhir.

Dengan demikian, tiga tips ini dapat dilakukan tiap harinya sebagai latihan mengelola diri agar hidup tenang disaat lingkungan menuntut semua serba instan, dan berlomba-lomba menampilkan pencapaian.

Leave a Reply