MASKANULHUFFADZ.COM – Bicara ikhlas seringkali amatiran. Ikhlas memang mudah diucapkan tapi tak semua mampu menjalankan. Pernah nggak sih kita merasa ingin dihargai, masih ada rasa kecewa saat tidak diapresiasi, dan merasa sedih jika tidak dicintai?

Tidak salah, semua rasa itu adalah fitrahnya manusia. Allah menciptakan hati bukan untuk settingan semalam. Ikhlas yang tertanam dalam hati merupakan hasil dari proses panjang yang terus dilatih dan diolah.

Bicara ikhlas, bukan tentang menyerah tetapi tentang mengarahkan hati dan pikiran untuk Allah. Dalam menjalankannya pun butuh proses dan tidak semua orang mampu mengaplikasikannya, mungkin hari ini kita mampu mengikhlaskan apapun yang terjadi, tetapi esok hari belum tentu kuat menerima, itu semua bukan tanda lemah iman tapi bentuk tarbiyah jiwa yang Allah berikan pada orang-orang yang dicintainya.

Allah menciptakan hati manusia itu hidup, bukan benda mati seperti batu yang tidak merasakan apa pun. Hati yang hidup itu Allah berikan kemampuan dalamnya untuk merasakan semua perasaan, sehingga dengan rasa itu manusia bisa merasakan kehilangan, kecewa dengan harapan, marah dengan realita, hingga rasa benci dengan takdir.

Jika kita pahami, Allah menitipkan semua rasa dalam hati bukanlah tanpa alasan. Allah menciptakan semuanya karena ingin menjadikan manusia sebagai makhluk mulia dan sempurna. Bahkan Rasulullah sekalipun pernah merasakan sedih, kecewa, dan merasakan pedinya kehilangan.

Tetapi, rasa itu menjadi tidak baik-baik saja saat kita menggantungkannya kepada selain Allah, menjadikan sesuatu sebagai sumber kebahagiaan itulah yang membuat kita merasakan kehilangan berlebihan.

Kenapa Hati Ini Sulit untuk Ikhlas?

Dengan demikian, yang membuat kita sulit untuk ikhlas bukanlah kurangnya iman, tetapi kita sedang belajar melepaskan sesuatu yang telah lama digenggam.

Perlu dicatat, ikhlas bukan juga diartikan menghilangkan rasa cinta, menghapus pengharapan, menyerah dengan keadaan, dan mengubur impian. Tetapi ikhlas itu merupakan cara meluruskan arah sandaran.

Dalam kajian neurologi pun dijelaskan, ternyata ketidak ikhlasan itu merupakan bentuk settingan dari kerja otak. Ternyata Allah menciptakan otak manusia dengan kemampuan ingin mempertahankan apapun yang dianggapnya penting. Sehingga saat sesuatu yang kita anggap penting itu hilang maka otak akan menghidupkan alarm, akan muncul penolakan, marah, kebencian, dan keputus asaan. Demikianlah mekanisme yang Allah ciptakan yang tujuannya untuk mempertahakan kehidupan bagi manusia. Namun, satu hal penting ini wajib kita pahami, bahwasanya ikhlas itu bukanlah menghilangkan luka, tetapi mengubah arah hati. Kompas yang akan mengarahkan cara manusia bersikap.

Dari mempertanyakan kenapa Allah memberikan masalah menjadi apa hikmah yang Allah selipkan dari masalah. Jadi sangat salah besar bagi kita yang memahami ikhlas itu pasrah dengan keadaan, karena sesungguhnya ikhlas itu pada dasarnya adalah pemurnian ibadah hanya kepada Allah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Qs. Al-Bayyinah ayat 5, bahwasanya ikhlas adalah orientasi hidup.

Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa ikhlas merupakan inti dari orientasi hati, kemana dipusatkannya semua amal. Apakah dalam amal tersebut masih tercampur ketergantungan selain dari pada Allah? ataukah sudah murni hanya untuk Allah?

Sungguh sangat berbahagia orang-orang yang dapat memupuk ikhlas dalam hatinya, sebab Allah akan menjanjikan empat keutamaan baginya, yakni hati lebih ringan, tidak lagi sibuk menjelaskan diri, lebih mudah bersyukur, tidak mudah iri, dan lebih cepat kembali pada allah.  

Lalu, bagaimana caranya agar ikhlas ini bisa dilatih?

Maka hindarilah amal-amal yang akan mencuri ikhlas itu dari dalam hati, di antaranya haus pengakuan, riya’ yang sangat halus, ujub (bangga diri), terlalu bergantung pada manusia, dan merasa berhak atas hasil.

Baarakallahu fiikum…

Leave a Reply