MASKANULHUFFADZ.COM – Akhir-akhir ini viral di media sosial challenge membaca Qs. Ad-Dhuha dapat sebotol miras. Fenomena yang sangat menyayat hati umat islam, saat Al-Qur’an dijadikan bahan candaan. Ternyata peristiwa ini relevan dengan kisah yang diceritakan dalam Qs. At-Taubah ayat 65. Dikisahkan pada tahun 9 Hijriah pada perjalanan panjang, berat, dan memelelahkan dalam perang Tabuk. Sekelompok orang munafik di tengah rombongan duduk santai sambil ngobrol dan bercanda. Di tengah obrolan tersebut seorang munafik melemparkan candaan tentang seorang qori, orang-orang yang hafal dan membaca Al-Qur’an di dalam rombongan tersebut.
“Aku belum pernah melihat orang seperti qori-qori kita ini, paling rakus perutnya, paling bohong lisannya, paling penakut kalau bertemu musuh.”
Bukan menyindir, kalimat ini adalah ejekan telak kepada para hafidz. Salah satu dari mereka pun menyanggah ucapan orang munafik tersebut. “Kamu bohong, kamu munafik, akan kukadukan pada Rasulullah.”
Berita itupun sampai pada Rasulullah, lalu Nabi mendatangi mereka. Ketika Rasulullah menanyakan kebenarannya, orang-orang munafik itupun menjawab dengan sedemikian, “Ya Rasulullah, kami cuma bercanda, sekedar senda gurau.”
Kisah ini pun diabadikan, lalu Allah menurunkan Qs. At-Taubah ayat 65.
“Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, mereka pasti akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
Perihal kisah ini sangat sinkron dengan trend viral yang sedang buming di media sosial. Alasan yang terdengar klasik, menjadikan candaan setoran bacaan Qs. Ad-Dhuha sebagai undian untuk mendapatkan miras.
Kenapa Jadi Masalah?
Al-Qur’an bukanlah instrument gimmick marketing, candaan, atau bahan gurauan antar sesama. Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah, kitab suci yang Allah turunkan pada Rasulullah sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia. Sangat berbading terbalik dengan miras yang merupakan minuman yang jelas keharamannya, dan tegas Allah melarang bahkan menyebutnya dengan perbuatan syaitan.
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” Qs. Al-Maidah ayat 90
Kalimat “kan cuma challenge” adalah bentuk dari hilangnya adab kepada Al-Qur’an. Al-Qur’an yang hakikatnya adalah petunjuk dan nilai dasar kehidupan, yang seharusnya memberikan panduan tentang bagaimana menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Islam, panduan yang menjelaskan benar dan salah, bahkan panduan sampai di alam kematian. Kini, menjadi olok-olokan yang tidak ada manfaatnya bahkan menghancurkan kehidupan. Seharusnya dengan keutamaan-keutamaan yang Allah hadirkan dari Al-Qur’an tersebut, selayaknya manusia memperlakukan Al-Qur’an dengan adab yang benar agar setiap nilai dan ajaran yang disampaikannya menjadi cerminan dalam perilaku.
Dari peristiwa ini mengajarkan kita bahwa Al-Qur’an bukanlah sekedar bacaan yang dihafalkan, bacaan yang fasih diucapkan, namun Al-Qur’an adalah bacaan yang dapat menyentuh hati, membentuk akhlak, dan terlihat dari perbuatan.










