MASKANULHUFFADZ.COM – Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk mempertahankan sebuah perjuangan. Di balik perjalanan Maskanul Huffadz yang kini dikenal sebagai lingkungan pendidikan Al-Qur’an, tersimpan cerita tentang kerinduan, keyakinan, dan keputusan untuk terus mengabdi.
Perjalanan ini dimulai dari secercah cahaya dakwah yang menyelinap dalam relung hati. Perjalanan menemukan jati diri. Semua tak luput dari perjalanan menempuh karir seorang umma Oki Setiana Dewi yang dihadapkan dengan kerasnya berjuang di ibukota hingga menemukan titik terang, “Hidup dalam lingkungan Al-Qur’an.”
Kini, kerinduan dengan lingkungan Al-Qur’an ia wujudkan dengan berdirinya sebuah rumah cinta untuk para huffadz (keluarganya Allah). Bersama dua sahabatnya rumah itu bertrasformasi menjadi sebuah pesantren megah bernama Maskanul Huffadz.
Maskanul Huffadz
Berawal dari keyakinan akan besarnya pertolongan Allah dan rasa syukur atas setiap nikmat-Nya, pesantren ini perlahan tumbuh menjadi ruang bagi lahirnya generasi Qur’ani. Pesantren ini bukanlah lahir dari serba kecukupan, kaya ilmu, ataupun banyaknya pengalaman. Tetapi, semua berawal dari keyakinan, pertolongan selalu membersamai hamba-hambanya yang menolong agama Allah.
Kemudian keyakinan itu menjelma menjadi aksi nyata. Setiap personal mulai mengembangkan diri, bertumbuh bersama, belajar meng-upgrade diri, bersemangat dalam mengabdi, dan saling mengevaluasi diri sampai akhirnya perjuangan kini berusia sepuluh tahun.
Jalan dakwah tidak semanis madu. Di setiap langkah perjuangannya, selalu ada tantangan dan rintangan yang dihadapi. Begitu pula dengan perjalanan Maskanul Huffadz. Di awal berdirinya, berbagai penolakan, cibiran, hingga hujatan menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilalui. Namun, semua itu justru menjadi ujian yang menguatkan langkah untuk terus bertahan dan mengabdi.
“Awal berdiri banyak masyarakat menolak dan mempertanyakan keberadaan Maskanul Huffadz sebagai lembaga pendidikan Al-Qur’an. Penolakan ini lahir dari background umma yang notabene bukan dari pesantren ataupun anak kiyai,” tutur Umma Oki.
Penolakan dan perbaikan silih berganti mewarnai perjuangan satu dekade Maskanul Huffadz, hingga pesantren ini sampai di titik melahirkan ratusan para huffadz. Tentu, perjalanan ini tidak mudah, namun hasil dari perjuangan kini mulai dirasakan. Rasa bangga dan kesyukuran membahasahi bibir atas nikmat Allah.
“Umma sangat bangga saat santri bisa berhasil dibidangnya masing-masing. Baik di dalam maupun luar lembaga. Seperti dalam lembaga umma bangga melihat mereka mampu mengelola program-program hingga sukses dan berhasil. Mereka mampu membawa ide-ide dari meja rapat teraplikasikan dalam dunia nyata dan memberikan hasil. Dan umma sangat bangga saat santri mampu bersekolah ke jenjang lebih tinggi, karena itulah yang memotivasi umma terus berjuang, menyebarkan manfaat pada ummat ini,” tambah umma Oki.
Waktu terus berjalan. Santri datang dan pergi, program berkembang, dan lingkungan Qur’an yang dahulu menjadi sebuah harapan perlahan tumbuh menjadi ruang belajar bagi banyak orang. Namun, satu hal tetap bertahan semangat untuk terus menghadirkan lingkungan yang dekat dengan Al-Qur’an.
Bagi umma Oki, satu dekade bukanlah tanda bahwa perjalanan telah selesai. Justru, sepuluh tahun menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada Al-Qur’an adalah perjalanan panjang yang terus membutuhkan langkah-langkah baru. Perjalanan untuk membumikan kalam Allah yang lebih luas, menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh dalam setiap jiwa manusia. Meskipun mereka berkiprah dengan berbagai versi tetapi mereka tetap membawa nilai Al-Qur’an dalam hidupnya.










