MASKANULHUFFADZ.COM – Dunia dakwah dan penggiat kemanusiaan sontak diramaikan dengan berita meninggalnya seorang relawan Ahmad Zaki Ali. Seorang relawan kemanusiaan yang akrab disapa bang Jek. Ia dikenal sebagai salah seorang relawan kemanusiaan dan pendiri salah satu lembaga peduli kemanusiaan yang berfokus pada pelayanan masyarakat khususnya dhuafa “Gerak Bareng”.
Kematiannya ramai diperbincangkan di media sosial, Bang Jek dikabarkan meninggal saat menjalankan aksi kemanusiaan membantu korban gempa NTT. Kabar kepergiaannya tersiarkan pada Jum’at (21/8) sore. Sempat beredar video 15 menit sebelum kematiannya Bang Jek sedang asyik dan sibuk dengan rutinitasnya membagikan makanan pada para korban.
Kematian yang Direncanakan
Kisah kemanusiaan Ahmad Zaki Ali menyadarkan kita pada penggalan ayat dari Qur’an surah Ali-Imran ayat 102:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
Dalam menafsirkan ayat ini Imam Ibnu Katsir menuturkan kalimat, jagalah islam kalian dalam kondisi sehat kalian, agar kalian wafat dalam keadaan tersebut. Karena sesungguhnya Allah sudah menjalankan sunnatullahnya, kebiasaan-Nya. Ini semua terangkum dalam kaidah kehidupan bahwa:
أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ
“Sungguh siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan tertentu, ia pun akan diwafatkan di atas kebiasaan tersebut”
Kaidah ini menjelaskan bahwa kematian itu merupakan hasil settingan yang dipersiapkan di masa hidup. Kematian suatu kepastian yang tidak ada manusia yang mengetahui kapan datangnya, tetapi seperti apa kematian akan datang merupakan sesuatu yang bisa direncanakan.
Setiap orang tentunya ingin kematiannya dalam keadaan terbaik, kematian yang disibukkan dalam keataatan, dan amal terbaik. Dalam islam kematian seperti ini disebut husnul khatimah.
Lalu, bagaimana cara untuk mendapatkan kematian terbaik itu? berikut dua kunci cara menyiapkan kematian terbaik.
Pertama istiqomah
Keistiqomahan adalah kunci keberhasil seorang muslim yang menentukan akhir kehidupan seseorang. Dalam menggapainya maka dibutuhkan konsistensi, betapa meruginya saat seorang hamba yang selama hidup disibukkan dengan amal shaleh namun berakhir dengan tergelincir pada kemaksiatan. Keutamaan yang Allah berikan kepada mereka yang istiqomah dijelaskan dalam Qs. Fushilat ayat 30-31.
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allâh,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allâh) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Kedua tidak menunda kebaikan
Hidup hanyalah rangkaian detik yang terus berjalan tanpa pernah kembali. Tidak ada jaminan bagi suatu penundaan, bisa jadi setiap kesempatan itu hilang, umur kita berakhir, atau hati akan berubah. Menunda amal bukan selalu karena tidak mau berbuat baik. Justru banyak orang memiliki niat yang baik, tetapi terhalang oleh berbagai alasan. Padahal, tidak ada satu pun manusia yang mengetahui berapa lama lagi Allah memberikan kesempatan hidup kepadanya.
Allah SWT mengingatkan dalam QS. Luqman:34.
“Dan tidak seorang pun mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak seorang pun mengetahui di bumi mana dia akan mati.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa masa depan adalah rahasia Allah SWT. Kita boleh memiliki rencana, tetapi kita tidak pernah memiliki kepastian tentang waktu. Karena itu, seorang muslim hendaknya memanfaatkan kesempatan yang datang sebagai kesempatan terbaik untuk memperbanyak amal.
Nah, dari jabaran di atas dapat kita bercermin dari kisah Ahmad Zaki Ali, bagaimana ia bisa meninggal di lokasi bencana dalam kondisi melakukan amal kemanusiaan. Semuanya adalah hasil dari keistiqomahan dan sikap tidak menunda-nunda yang dilakukannya.










