MASKANULHUFFADZ.COM – Ahad, 30 Agustus 2026 Pesantren Tahfidz Maskanul Huffadz menyelenggarakan wisuda tahfidz ke-XV di gedung Menara 165, Jakarta Selatan. Pada tahun ini Maskanul Huffadz berhasil menggandeng 171 santri dari 14 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Spesialnya wisuda tahun ini bertepatan dengan peringatan satu dekade pengabdian Maskanul Huffadz dalam dunia pendidikan dan dakwah. Acara digelar dengan megah, meriah, dan penuh khidmat. Bertepatan dengan peringatan satu dekade, nuansa toska, kuning, dan putih menghiasi setiap lorong gedung, tema yang diangkat pun menggambarkan perjalanan Maskanul Huffadz. “Dermaga Doa dan Asa” tema yang mengisyaratkan tentang kehadiran Maskanul Huffadz sebagai tempat persinggahan awal menuju perjalanan mencapai cita-cita.

Wisuda tahun ini sangat berkesan, tidak hanya bagi founder, pengurus, ataupun santri. Kebahagian dan rasa bangga juga dirasakan oleh para undangan dan orang tua yang hadir. Salah satunya ibu Purnawati dari Medan, orang tua Wafiq Azizah salah satu santri dari cabang Cijeruk, Jawa Barat.

“Subhanallah, saya sangat bersyukur dan sangat bahagia dengan wisudanya wafiq. Wafiq anaknya sering sakit, tidak pernah terbayangkan ia mampu menyelesaikan 30 juz dan bisa diwisuda hari ini,” ungkap ibunya dengan penuh haru.

Hal senada juga disampaikan Suci (19) santri cabang Sungai Pua yang berhasil mentasmi’kan 30 juz pada parade tasmi’ periode ini. Baginya wisuda kali ini menjadi obat baginya atas perjuangannya selama menghafal.

“Masyaallah, sebelum masuk Maffaz saya pernah menghafal tapi belum selesai 30 juz. Alhamdulillahnya setahun di Maffaz Allah berikan saya kemampuan menyelesaikannya dan bisa tasmi. Rasanya perjuangan saya bertahun-tahun menghafal terbayarkan, dari mulai gladi dan melihat pentasnya saja saya sudah terharu. Perjuangan saya melawan kantuk, malas, rasa prutasi, seperti terbayarkan,” jelas Suci.

Menghafal Al-Qur’an tidak hanya perjuangan fisik tetapi juga mental. Seperti yang dirasakan Cirin Mukminah Sari (24), santri terbaik dari cabang Cijeruk. Menurutnya tantangan di Maskanul Huffadz datang dari meyakinkan orang tua agar diizinkan untuk mondok.

“Saya sudah menyelesaikan pendidikan strata satu, keputusan saya untuk mondok sempat ditentang orang tua. Mereka ingin setelah tamat kuliah saya langsung kerja. Alhamdulillahnya, karena saya yakin dengan cita-cita akhirnya orang tua mengizinkan. Dan yang membuat saya bahagia, pada momen periode tasmi’ saya bisa menyetorkan 15 juz,” ungkap Cirin.

Kisah perjuangan santri ini membuktikan bahwa perjuangan bersama Al-Qur’an bukanlah perjalanan yang mudah. Perjuangannya membutuhkan keyakinan dan tekad yang kuat. Hari ini pada wisuda tahfidz ke-XV, 171 santri Maskanul Huffadz berhasil membuktikan keyakinan dan tekadnya.

Leave a Reply