MASKANULHUFFADZ.COM – Momentum wisuda tahfidz ke-XV sekaligus milad ke sepuluh, Maskanul Huffadz memberikan hadiah umroh pada 10 pengurus. Hadiah ini diberikan sebagai ucapan terimakasih atas dedikasi bertahun-tahun mengabdi di Maskanul Huffadz.

Acara wisuda yang diselenggarakan di Gedung Menara 165, Jakarta Selatan ini berlangsung dengan penuh khidmat sejak awal hingga akhir. Suasana semakin haru menjelang akhir acara saat puluhan hadiah umroh diumumkan.

Tangis bahagia pecah saat satu per satu nama santri dan pengurus diumumkan. Kesempatan ini menjadi bukti nyata keberkahan Al-Qur’an, sekaligus bentuk penghargaan Allah kepada mereka yang tulus mengabdi dan berjuang menjaga Al-Qur’an.

Spesialnya lagi, suatu plot twist yang mengejutkan di tahun ini untuk hadiah umroh tersebut diberikan pada satu angkatan cabang Medan Akhwat. Rasa haru tidak terbendung saat mereka satu persatu dipanggil namanya ke panggung utama.

Ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur tidak henti-henti dilantunkan, salah satunya Ustadzah Meisya, Kepala Cabang Maskanul Huffadz BSD.

“Saya tidak bisa berkata apa-apa selain rasa syukur. Sebelum wisuda ini kami satu angkatan pernah Kumpulan di cabang Cijeruk, di sana kami becandaan bisa reunian di Mekkah barengan. Dan Qadarullah semuanya terkabulkan di wisuda ini,” ungkapnya.

Maskanul Huffadz adalah pesantren yang bukan sekedar tempat kerja tetapi juga tempat bertumbuh bagi seluruh santri dan pengurusnya.  Sebagaimana yang disampaikan Umma Oki Setiana Dewi dalam sambutan di wisuda akbar tersebut.

“Pesantren ini adalah tempat bertumbuh bersama. Maskanul Huffadz tidak pernah merekrut karyawan dari luar, agar kami bisa tumbuh bersama. Mereka yang bekerja berasal dari para santri yang telah menyelesaikan hafalannya kemudian mengabdi pada pesantren,” jelas Umma Oki.

Nilai tersebut juga menjadi salah satu alasan Ustadzah Meisya memilih untuk terus bertahan dan mengabdi di Maskanul Huffadz. Menurutnya, lingkungan yang suportif membuat dirinya terus berkembang. Hubungan yang terjalin pun tidak sebatas hubungan profesional antarrekan kerja.

“Maskanul Huffadz membuat saya berkembang karena lingkungan yang suportif. Lingkungannya juga bukan sekadar teman kerja, tetapi teman sampai ke surga,” tuturnya.

Selama menjalani pengabdian, Ustadzah Meisya mengaku mendapatkan banyak pelajaran, khususnya dalam menjalankan peran sebagai seorang pengajar. Baginya, menjadi musyrifah tidak hanya tentang menyampaikan ilmu kepada santri, tetapi juga tentang terus belajar dan memberikan teladan.

“Selama saya mengabdi di Maffaz banyak sekali saya belajar bagaimana menjadi seorang pengajar yang baik. Tidak lupa juga, kita sebagai pengajar harus terus bertumbuh dengan belajar, bagaimana menjadi seorang guru yang bisa memberikan teladan kepada para santri,” katanya.

Momentum milad satu dekade dan Wisuda Tahfidz ke-XV tersebut akhirnya tidak hanya menjadi perayaan perjalanan Maskanul Huffadz selama 10 tahun, tetapi juga menjadi ruang untuk merayakan perjuangan, pengabdian, persaudaraan, dan keberkahan Al-Qur’an yang dirasakan bersama.

Leave a Reply