MASKANULHUFFADZ.COM – Beredarnya video aksi seorang pria yang menendang seorang wanita di Mall Senayan City menjadi topik perbincangan hangat di media sosial. Dugaan pencurian yang dilakukan oleh korban terbukti tidak benar adanya. Menurut keterangan korban, dia hanya sedang mengantre di salah satu foodcourt dan tiba-tiba tubuhnya terpelanting akibat tendangan pelaku. Motif penganiayaan pelaku yang didasari rasa kesal karena korban dianggap mengganggu, menjadi sorotan karena dinilai tidak masuk akal. Aksi tidak terpuji yang dilakukan RS ini membuat geram publik dan menuntut tindak lanjut dari pihak yang berwenang.

Hingga kini, polisi sudah menangkap pelaku dan menetapkannya sebagai tersangka penganiayaan. Sementara korban masih menjalani pemulihan terkait kejadian yang mengakibatkan syok dan trauma. Polisi mengabarkan bahwa tidak ada luka ataupun cedera yang serius pada korban, namun kasus ini akan terus berlanjut hingga telah dilakukan penahanan terhadap pelaku di Rutan Polda Metro Jaya sejak 19 September 2026.

Pihak Mall Senayan City juga ikut buka suara terkait kejadian tersebut setelah video CCTV beredar luas di media sosial. Mereka menyatakan akan berkomitmen dalam menjaga keamanan pengunjung dan bekerja sama dalam membantu penyelidikan oleh pihak berwenang. Hal itu sangat memudahkan tim kepolisisan untuk melakukan penyelidikan di TKP dan juga memeriksa CCTV setempat.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan (orang lain) merasa aman dari kejelekannya.” (HR Tirmidzi) 

Seseorang dinilai dari bagaimana dia bersikap terhadap orang lain, baik yang sudah dikenalnya maupun orang yang asing di matanya. Ia gemar menebarkan manfaat dan kebaikan, serta menjaga diri dari perbuatan yang dapat merugikan orang lain di sekitarnya. 

Kejadian ini menjadi alarm intropeksi diri, bahwa rendahnya pengendalian emosi bisa menarik kita pada penyesalan yang mendalam. Menanggapi kejadian yang sangat memalukan ini, kembali kita mengulas bagaimana menumbuhkan sikap menghargai sesama, terutama kepada wanita. Islam memandang wanita adalah karunia, makhluk yang Allah ciptakan beserta keindahannya yang tidak hanya terletak pada fisik, tetapi juga pada hati dan pikiran.

Kemuliaan Wanita yang Tercatat Dalam Al-Qur’an dan Hadis

Sebelum Islam datang, ada banyak sekali kemunkaran dan penganiayaan yang dilakukan terhadap wanita. Mereka dikubur hidup-hidup, dibunuh secara paksa, hingga diperjualbelikan. Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu ‘Aaihi Wasallam datang untuk memerangi segala kemunkaran dan kezaliman terhadap wanita, serta menjamin setiap hak manusia tanpa kecuali.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian dari mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,”  (QS. At-Taubah [9]: 71).

Islam mengajak umatnya untuk memuliakan wanita sejak ia menjadi anak-anak, saat menjadi seorang istri, dan bahkan setelah menjadi seorang ibu. Sebagai seorang anak, ia bisa menjadi tiket surga bagi orang tuanya, seperti yang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sabdakan dalam hadisnya:

“Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak wanita, dia melindungi, mencukupi dan menyayanginya, maka wajib baginya surga. Ada yang bertanya, ‘Bagaimana kalau dua orang anak wanita wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Dua anak wanita juga termasuk’,” (HR Bukhari).

Sebagai seorang istri, wanita menjadi tolak ukur baik-buruknya akhlak seorang suami, seperti yang tertera pada hadis Rasulallah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam :

“Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang akhlaknya paling baik di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang akhlaknya terbaik terhadap istrinya,” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah).

Hadis di atas menggambarkan bagaimana Islam mengaitkan kemuliaan sebuah keluarga dilihat dari perlakuan suami terhadap istrinya. Kemudian sebagai seorang ibu, sudah sering kita mendengar bagaimana hadis Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan bahwa kedudukan seorang ibu tiga kali lebih utama dibandingkan seorang ayah. Tiga keistimewaan yang dimiliki seorang ibu yakni mengandung, melahirkan, dan menyusui.

Dari Abu Hurairah RA, “Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang-orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Kemudian ayahmu,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Menjaga Wasiat Rasulullah SAW 

Dari pesan-pesan Rasulullah di atas, maka tidak ada satupun alasan yang bisa membenarkan buruknya perlakuan seseorang terhadap wanita. Dengan berbuat baik terhadap wanita, maka kita telah menjaga wasiat Rasulullah yang begitu mengkhawatirkan kaum wanita karena mereka merupakan makhluk yang lemah, seperti yang tertulis dalam hadis:

“Sejujurnya aku mengkhawatirkan hak dua orang yang lemah atas kalian: anak yatim dan wanita.” (HR Ibnu Majah).

Mengedepankan komunikasi di atas emosi menjadi hal yang harus diprioritaskan, terutama di ruang publik. Masalah yang seharusnya bisa diselesaikan hanya dengan beberapa kalimat, kini justru berakhir di balik hukum pidana.

Penganiayaan yang terjadi pada kasus ini menjadi evaluasi keamanan publik dan bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melatih pengendalian emosi dan menanamkan sikap sopan santun terhadap sesama.

Leave a Reply