MASKANULHUFFADZ.COM – Viral di media sosial salah seorang oknum kiyai Jember dilaporkan masyarakat ke Polres Jember akibat konten viralnya di TikTok pada 17 september 2026 yang mengaku pernah melihat dan bertemu langsung (secara zahir) dengan Allah. Kasus ini menjadi gencar karena keresahan masyarakat yang mengganggap perbuatan kiyai tersebut seperti mempermainkan akidah ummat islam.

Terlepas dari itu semua, maka patut kita membahas dalam kacamata Islam terutama dalam pandangan Al-Qur’an dan hadis, apakah benar kemampuan melihat Allah sesuatu yang memiliki landasan dalam islam.

Benarkah Allah Bisa Dilihat?

Sebelum mengkaji lebih dalam perlu dipahami prinsip ini, bahwa tidak semua yang tak terlihat berarti tidak ada. Seperti halnya otak manusia, bagaimana kita meyakini bahwa manusia memilikinya sedangkan tidak melihat. Demikian juga dengan Allah, tidak mungkin ada satupun manusia yang bisa melihat Allah baik muslim maupun kafir selagi masih hidup, bahkan Nabi sekalipun tidak diberi izin.

Dikisahkan dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 143 tentang permintaan Nabi Musa yang ingin melihat wajah Allah.

“Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”

Menurut tafsirnya, saat Ibnu Abbas ditanya sahabat seperti apa cahaya yang dipancarkan tersebut, Ibnu Abbas menyodorkan tangannya seujung jari. Maha Besarnya Allah, dengan secuil cahaya saja mampu menghancurkan gunung lalu sebesar apa Allah jika manusia mampu melihatnya. Allahu a’lam bissawab.

Oleh karena itu, manusia diberi kemampuan menggunakan akal dan pikiran untuk melihat Allah melalui seluruh ciptaannya. Dengan kemampuan itu manusia bisa mentafakuri alam semesta untuk menyaksikan qudrahnya Allah. Hal ini dikarenakan Allah itu Maha Bathin, jika dicari tidak akan pernah melihat wujudnya.

Allah itu adalah Al-Bathin yaitu Allah maha sembunyi jika melihatnya dengan mata kepala, tapi Allah maha zhahir jika dilihat dari mata hati atau tafakur. Sehingga untuk melihatnya lihatlah dari ciptaannya dimuka bumi ini.

Leave a Reply