Antara Mimpi dan Mati, Mana yang Harus Dipersiapkan Terlebih Dahulu?

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Semakin bertambahnya usia bumi, semakin banyak pula tingkah manusia yang makin hari makin aneh saja. Bukan hanya itu, sering kali kita berpura-pura tidak sadar akan akhir zaman. Sibuk menyusun rencana meraih impian sampai lupa mempersiapkan bekal menghadapi kematian.

Anehnya lagi, sudah tau bahwa mati itu datangnya pasti, tapi soal taubat masih saja mengandalkan kata ‘nanti’. Giliran malaikat maut menghampiri, sibuk mencari tempat sembunyi.

Mau lari kemana?

Hey, Allah itu Maha Melihat segala sesuatu yang kita perbuat. Allah itu Maha Mendengar segala sesuatu yang kita ucapkan. Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Persis seperti yang dikatakan oleh Ustadz Saihul Basyir, “Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Baik itu segala sesuatu yang mungkin terjadi pada makhluk, atau pun segala sesuatu yang menurut makhluk tidak mungkin terjadi.”

Semua sadar, bahwa kematian tidak pernah memandang umur. Kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja. Manusia lebih senang mengejar impian yang belum pasti, dari pada mempersiapkan kematian yang sudah pasti terjadi.

Dari Abdullah radliallahu anhu dia berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah membuat suatu garis persegi empat, dan menggaris tengah di persegi empat tersebut, dan satu garis di luar garis segi empat tersebut, serta membuat beberapa garis kecil pada sisi garis tengah dari tengah garis tersebut. Lalu beliau bersabda: Ini adalah manusia dan ini adalah ajalnya yang telah mengitarinya atau yang mengelilinginya dan yang di luar ini adalah cita-citanya, sementara garis-garis kecil ini adalah rintangan-rintangannya, jika ia berbuat salah, maka ia akan terkena garis ini, jika berbuat salah lagi maka garis ini akan mengenainya.” (HR. Bukhari) [No. 6417 Fathul Bari] Shahih.

Sering kali terdengar di telinga kita, kabar tentang kematian. Ada yang mati karena kecelakaan beruntun. Ada yang mati karena sakit terkena virus. Ada juga yang mati tiba-tiba tanpa adanya tanda. Jika kabar kematian pun belum bisa menggerakkan hati untuk menyucikan diri, lantas hal apa lagi yang mampu menyadarkan kita untuk mengingat mati?

Bukan berarti kita tidak boleh meraih impian kita, melainkan agar kehidupan setelah mati menjadi masa depan yang cerah. Sebab jangankan 5-10 tahun ke depan, besok pun tidak ada jaminan kita masih diberi kesempatan hidup. Maka jadikan ‘husnul khatimah’ sebagai mimpi yang prioritas dengan target jangka terdekat.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari sifat lalai dan segala sesuatu yang tidak bermanfaat. Aamiin.

 

Posted in Artikel and tagged , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published.