Berlangsung Spektakuler di Menara 165: Wisuda Akbar ke-IX Maskanul Huffadz

“Sebagian dari bentuk mengagungkan Allah adalah memuliakan tiga orang: pemimpin yang adil, orang tua yang muslim dan pengkaji al-Qur’an.” (HR. Abd al-Bar)

Inilah mengapa Menara 165 dipilih menjadi tempat yang akan bersejarah di hati para wisudawan dan wisudawati. Kemegahan ini bertujuan sebagai syiar bahwa penghafal Al-Quran memiliki kemuliaan, keutamaan, dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Dengan memuliakan mereka maka kita memuliakan Allah SWT.

Selain tempat yang istimewa, wisuda kali ini tercatat sebagai wisuda dengan jumlah santri terbanyak yakni 58 akhwat dan 20 ikhwan yang terdiri dari 3 cabang akhwat dan 1 cabang ikhwan. Tiga cabang tersebut adalah Maffaz Pusat, Maffaz Cijeruk Bogor, dan Maffaz Jambi.

Momen penuh haru tersebut disaksikan oleh ulama dan tokoh publik yang mendukung dan membersamai Maskanul Huffadz di antaranya Sheikh Ahmad Umar Taj, Abah Samsul Arifin, MA. CEO Persada Indonesia, Bapak Ippho Santosa, Bapak Ary Ginanjar, dan Ustadz Yusuf Mansur.

Sosok-sosok ini mewakili ribuan donatur, orang tua asuh, dan lembaga yang bekerja sama dengan Maskanul Huffadz. Dengan kemurahan hati dan uluran tangan mereka, para santri ini dapat menyelesaikan pendidikan tahfidz selama satu tahun.

Dalam acara tersebut diumumkan santri-santri terbaik dari masing-masing cabang juga santri dengan jumlah tasmi’ terbanyak. Mereka terpilih karena dinilai disiplin dan berakhlak baik terhadap guru maupun sesama teman. Selain diberikan piagam penghargaan, mereka dihadiahi sejumlah uang dari donatur yang tidak mau disebutkan namanya.

Hampir seluruh santri berasal dari luar kota bahkan luar pulau. Mereka merantau dengan izin dan ridho kedua orang tua demi menjadi penghafal Al-Quran. Setelah setahun berpisah, hari ini (19/12/21) mereka kembali bertemu.

“Hari ini Allah mengizinkan kita menumpahkan rasa rindu yang menggebu . . . dalam derai tangis bahagia penuh haru . . . maka izinkan aku memelukmu . . . dan menghapus air mata itu.”

Begitu baris terakhir puisi itu dibacakan, mereka turun dari panggung dan menyerahkan mawar putih pada ayah dan ibu mereka. Tangis haru memenuhi ruangan itu. (10/12/21)

Posted in Kegiatan and tagged , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published.