Bukan Pemaksaan Tapi Pembiasaan | Belajar Parenting dari Kisah Nyata

Dikisahkan, ada seorang gadis kecil yang setiap hari disuruh ayahnya untuk pergi ke ‘Kuttab’ (semacam Taman Pendidikan Al-Quran) guna menghafal Al-Quran. Seperti kebanyakan anak-anak lain seusianya, ia merasa kesal dan mendongkol setiap kali menuruti perintah sang ayah. Apalagi ia melihat sebagian teman-teman seumurnya bisa bermain dengan bebas tanpa beban seperti dirinya.

Sang ayah menangkap kekesalan itu dari sikap putrinya. Tapi ia tetap pada pendiriannya, menyuruh puterinya setiap hari pergi ke Kuttab. Sempat juga sang ayah terbersit rasa iba pada sang anak, ingin membiarkan puteri tersayangnya itu menikmati masa kecilnya seperti teman-teman sebayanya. Tapi ia sudah punya rencana dan mimpi besar untuk sang putri. Ibarat minum obat, biarlah sekarang terasa pahit dan getir, semoga besok terasa manis dan sehat.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Sang putri sekarang sudah menjadi seorang dosen di salah satu Universitas unggulan. Karir akademisnya semakin naik dan sangat menjanjikan. Ia bahkan mampu bersaing dengan dosen-dosen yang lebih senior.

Suatu hari sang ayah yang sudah tua bertanya kepada putrinya tercinta,  “Nak, apakah kamu dulu menyesal ayah suruh pergi ke Kuttab, memakai jilbab, selektif dalam bergaul, ini boleh ini tidak boleh, dan seterusnya?”

Dengan mata berkaca-kaca, sang putri berkata, “Sama sekali tidak, Ayah. Justru aku sangat bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Ayah. Kalau dulu Ayah tidak menyuruhku pergi ke ‘Kuttab’ sehingga aku bisa hafal al-Quran dalam usia muda, menjaga pergaulan dengan baik, patuh pada aturan yang Ayah buat, dan seterusnya, bisa jadi saat ini aku tidak seberhasil ini. Banyak temanku yang dulu menghabiskan waktu untuk bermain dan berhura-hura, sekarang nasib mereka sangat memprihatinkan. Ada yang jadi pengangguran, ada yang dapat pekerjaan ‘rendah’, ada yang gagal dalam kehidupan rumah tangga, dan lain-lain.”

Sang putri mengecup kening ayahnya dan berkata: “Terima kasih atas obat pahit yang dulu Ayah telah berikan. Sekarang aku bisa merasakan manis dan sehatnya.”

☆☆☆

Masa depan seorang anak memang sangat ditentukan oleh bagaimana didikan yang ditanamkan kepadanya hari ini. Dan tentu kita setuju, tidak ada pemaksaan dalam masalah berpakaian, tapi apakah itu artinya kita membiarkan mereka berpakaian apa saja sesuai kemauan mereka? Apa gunanya pendidikan kalau begitu? Di mana fungsinya seorang pendidik kalau pada akhirnya semua diserahkan pada kemauan peserta didik?

Kalau seorang anak enggan minum obat karena pahit, apakah sebagai orang orang tua kita akan mengatakan, “Ya sudah, kalau begitu tidak usah diminum, yang penting kamu senang.”

Yang dilakukan oleh banyak lembaga pendidikan terhadap peserta didiknya, pada hakikatnya adalah PEMBIASAAN, bukan PEMAKSAAN. Kalau pun ada sangsi, itu hanyalah sebagai instrumen penguat dan penegas agar PEMBIASAAN itu menjadi KEBIASAAN.

Sudah tidak asing lagi pernyataan ‘orang bisa karena terbiasa’, tapi sedikit sekali yang sadar bahwa ‘orang terbiasa karena terpaksa’.

Coba tanya pada orang-orang dewasa saat ini. Adakah mereka menyesal ketika dulu disuruh oleh orang tua mereka untuk shalat, berpuasa, menutup aurat, dan menjalankan perintah agama lainnya? Kalau disuruh pilih, apakah mereka dulu memilih untuk diberi aturan oleh guru dan orang tua mereka atau dibiarkan memilih sendiri apa yang mereka mau? Pastinya, sebagian besar orang dewasa yang berakal sehat saat ini sangat bersyukur ditempa dan dididik oleh orang tua dan guru-guru mereka dulu, meski dengan cara yang keras atau bahkan sangat keras. []

ربّنا اغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا وارحمهم كما ربّونا صغارا

“Kisah ini adalah kisah nyata, yang pernah disampaikan oleh Syaikh Said al-Kamali, seorang Ulama asal Maroko,” tulis Ustadz Fairuz Hammurabi, Lc., pengajar di Pesantren Tahfidz Maskanul Huffadz.***

Posted in Artikel and tagged , , , .

One Comment

  1. Ma sya Allah ,luar biasa sekali kisah inspirasi yang benar² harus di baca dan di implementasikan oleh setiap orngtua kepada anak²nya saat ini.kisah ini sama seperti apa yang saya alami sendri ,saya sekarang sedang duduk di kelas 1 SMA ,dari semenjak umur 9 tahun orangtua saya menitipkan saya di pondok pesantren untuk menghfl alquran,dan alhamdulillah apa yg saya dapat hari ini jauh lebih besar terbalas dengan rasa sedih yang pernah saya alami 5 tahun yang lalu.Semenjak saya menghafal alqur’an Allah datangkan banyak rezeki yang tak terduga ,juga kebahagiaan kepada saya dan keluarga ,dan segala apapun yang saya inginkan allah beri jalan dan sellu allah permudah.semoga kita selalu allah beri kekuatan dan kesabaran serta keistaqomahan dalam ketaatan dan kebaikan .Sukses terus buat maskanul huffadz semoga allah balas segala kebaikan orangtua juga guru² kita.Dan semoga juga allah bisa mempertemukan saya bersama orang² hebat seperti ustzah oki dan shbat² lainnya untuk saling memberikan motivasi,manfaat, kebaikan juga semngat dalam mengahafal alquran.

Leave a Reply

Your email address will not be published.