Manfaat Mengingat Mati – Percakapan antara Allah dan Malaikat Izrail

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (yakni kematian).”

Imam Al-Qurthuby dalam Kitab At-Tadzkirah menyebutkan, “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal: “Bersegera taubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; menunda taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah.

Dalam kitab yang sama, Imam Al-Qurthubi menceritakan kisah Malaikat Izrail ketika mencabut nyawa manusia. Allah Ta’ala Yang Maha Tahu bertanya kepada Malaikat Maut agar terjadilah percakapan yang mengandung banyak hikmah untuk kita renungkan.

Allah bertanya, “Apakah kamu pernah menangis ketika kamu mencabut nyawa anak cucu Adam?”

Maka Malaikat Maut menjawab: “Aku pernah tertawa, pernah juga menangis, dan pernah juga terkejut dan kaget.”

“Apa yang membuatmu tertawa?”

Malaikat Maut menjawab, “Ketika aku bersiap-siap untuk mencabut nyawa seseorang, aku melihatnya berkata kepada pembuat sepatu, ‘Buatlah sepatu sebaik mungkin supaya bisa dipakai selama setahun.”

“Aku tertawa karena belum sempat orang tersebut memakai sepatu dia sudah kucabut nyawanya.”

Allah kemudian bertanya: “Apa yang membuatmu menangis?”

Maka Malaikat Maut menjawab: “Aku menangis ketika hendak mencabut nyawa seorang wanita hamil di tengah padang pasir yang tandus, dan hendak melahirkan. Maka aku menunggunya sampai bayinya lahir di gurun tersebut. Lantas kucabut nyawa wanita itu sambil menangis karena mendengar tangisan bayi itu karena tidak ada seorang pun yang mengetahui hal itu.”

“Lalu apa yang membuatmu terkejut dan kaget?”

Malaikat Maut menjawab: “Aku terkejut dan kaget ketika hendak mencabut nyawa salah seorang ulama-Mu. Aku melihat cahaya terang benderang keluar dari kamarnya, setiap kali Aku mendekatinya cahaya itu semakin menyilaukanku seolah ingin mengusirku, lalu kucabut nyawanya disertai cahaya tersebut.”

Allah bertanya lagi: “Apakah kamu tahu siapa lelaki itu?”

“Tidak tahu, ya Allah.”

“Sesungguhnya lelaki itu adalah bayi dari ibu yang kaucabut nyawanya di gurun pasir gersang itu. Akulah yang menjaganya dan tidak membiarkannya.”

Selain menjadi bukti kebanaran QS. Al-Munafiqun ayat 11, “Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang, . . .” kisah ini juga menegaskan QS. Yusuf ayat 64 yang berbunyi:

فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ۝

“Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”

Subhanallah. Semoga kisah ini menjadikan kita semakin mengingat kematian hingga akhirnya bertemu dengan kematian itu dalam keadaan husnul khotimah.

Sumber:

https://kalam.sindonews.com/read/429264/70/malaikat-izrail-tertawa-dan-menangis-saat-mencabut-nyawa-manusia-berikut-kisahnya-1621235125

https://muslim.or.id/8076-ingat-mati-2.html

Posted in Artikel and tagged , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published.