Mengenal Sya’ban yang Sering Dilalaikan

Allah bersumpah dengan masa bahwa manusia sungguh merugi. Salah satu penyebab kerugian itu adalah tidak mengetahui keutamaan suatu masa sehingga gagal dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Sya’ban adalah salah satunya.

Dibandingkan dengan dua bulan yang mengapitnya, Sya’ban cenderung disepelekan. Bukan saya lho yang bilang, tapi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sendiri.

Usamah bin Zaid pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dari hadits tersebut, kita tahu bahwa (1) Sya’ban juga memiliki keutamaan yaitu diserahkannya laporan seluruh amal dan (2) Rasulullah mencontohkan bagaimana cara untuk meraih keutamaan tersebut yaitu dengan berpuasa.

Selain itu, pada bulan ini juga terjadi banyak peristiwa penting bagi umat muslim, diantaranya:

  1. Terbelahnya bulan

Peristiwa mukjizat kenabian ini terjadi sebelum hijrah. Dalam kitab Mukjizat Nabi, Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan bahwa di kuil-kuil India terdapat manuskrip yang menceritakan peristiwa yang menakjubkan ini.

  1. Peralihan kiblat

Mengutip penjelasan dari NU Jatim, menurut Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 144 dalam kitab Al-Jami’ li Ahkāmil Qur’an dengan mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam untuk mengalihkan kiblat pada malam Selasa bulan Sya’ban yang bertepatan dengan malam nisfu Sya’ban. Peralihan kiblat ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Bahkan diceritakan bahwa beliau berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu turun perihal peralihan kiblat itu seperti Surat Al-Baqarah ayat 144 berikut.

 قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

  1. Turunnya ayat perintah untuk bershalawat

Inilah mengapa Sya’ban dikenal sebagai bulan Nabi Muhammad. Berikut bunyi ayat yang diturunkan:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab/33: 56)

Bahkan mengenai ayat ini, Kiai Chalwani menyebutkan dalam kitabnya, Madza fii Sya’ban, bahwa shalawat adalah kewajiban.

Nah, dengan mengetahui keutamaan dan peristiwa penting di bulan Sya’ban, harapannya kita semua tidak lalai dalam beramal untuk meraihnya. Lagi pula ini bulan terbaik untuk melatih diri dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. (8/3/22)

Posted in Artikel and tagged , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published.