Pelajaran dari 3 Perang Besar yang Terjadi pada Bulan Syawal

Syawal menjadi bulan pertama yang menentukan diterima atau tidaknya amal ibadah seorang muslim selama Ramadan. Sesuai nama bulan tersebut, hendaknya setiap muslim mengalami peningkatan dalam ketakwaan. Sayangnya banyak yang hanya menganggap Ramadhan sebagai ‘jeda’ dari kemaksiatan. Hasilnya, banyak alumni Ramadan yang gagal dan ‘balas dendam’ di bulan Syawal.

Selain itu, narasi yang laris begitu memasuki Syawal adalah sunnah menikah. Memang tidak salah, sebagaimana diketahui ada dua pernikahan Rasulullah ﷺ yang terjadi pada bulan ini: pernikahan dengan Aisyah dan pernikahan dengan Ummu Salamah. Namun, narasi tersebut hendaknya diseimbangkan dengan peningkatan kualitas diri terutama bagi pemuda-pemudi yang belum menikah.

Salah satunya dengan melanjutkan ibadah puasa. Dimulai dari puasa 6 hari Syawal dan puasa sunnah lainnya sebagai upaya meredam syahwat. Berbarengan dengan itu, ada narasi lain yang harus diangkat untuk mendukung peningkatan kualitas diri. Peperangan yang terjadi pada bulan Syawal tentu mengandung banyak pelajaran.

Perang Uhud

Di balik kemenangan gemilang kaum muslimin pada Perang Badar, ada api balas dendam yang tersulut yang akhirnya berkobar pada 7 Syawal tahun ketiga hijrah. Jumlah pasukan kaum muslimin memang sedikit dan berkurang karena pengkhianatan di tengah perjalanan tetapi bukan itu penyebab kekalahan.

Kemenangan nyaris memihak kaum muslimin ketika setiap lini pasukan menjalankan strategi dari Rasulullah ﷺ sebagai panglima perang. Pasukan pemanah yang diamanahkan bertahan di atas bukit Ainain melihat dengan jelas bagaimana pasukan musuh lari tunggang langgang. Abdullah bin Jubair melarang pasukan pemanah yang hendak turun untuk mengambil harta rampasan perang tetapi mereka berpendapat bahwa perang telah berakhir dan perintah Rasulullah ﷺ tidak berlaku lagi.

Khalid bin Walid, pemimpin pasukan berkuda kaum musyrik saat itu dengan cepat membaca situasi. Pasukan pemanah yang tersisa di atas bukit tidak mampu menghalau pasukan berkuda tersebut. Sementara pemanah yang sedang memungut harta rampasan perang tidak sempat mempersenjatai diri. Menyadari Khalid bin Walid berhasil membuka jalan untuk menyerang balik, pasukan musyrik yang sempat kabur kembali menyerbu.

Keadaan sepenuhnya berbalik. Rasulullah ﷺ bahkan sempat diberitakan gugur, menambah suara-suara sumbang di tengah pasukan muslimin yang sudah kehilangan banyak kesatria tangguh. Mengenai kekalahan ini, Allah berfirman: 

اَوَلَمَّآ اَصَابَتْكُمْ مُّصِيْبَةٌ قَدْ اَصَبْتُمْ مِّثْلَيْهَاۙ قُلْتُمْ اَنّٰى هٰذَا ۗ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اَنْفُسِكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran/3: 165)

Melalui kekalahan ini Allah mengajarkan kunci kemenangan yang harus dipegang kaum muslimin: taat kepada Rasulullah ﷺ. 

Perang Khandaq

Nama tersebut diambil dari strategi yang digunakan yaitu menggali parit. Salman Al-Farisi yang memberikan usul tersebut dalam musyawarah yang dibuka Rasulullah ﷺ begitu mengetahui ada pasukan sedang dalam perjalanan untuk menyerang kaum muslimin. Usul tersebut kemudian disetujui mengingat jumlah musuh tiga kali lebih besar. Pasukan tersebut merupakan koalisi antara kaum Yahudi dan kafir Quraisy. Oleh sebab itu perang ini diabadikan dalam Al-Quran sebagai perang Ahzab.

Syawal, tahun kelima setelah hijrah, menjadi saksi berlangsungnya perang ini. Pasukan koalisi yang berjumlah lebih dari 10.000 personel tersebut tidak bisa memasuki Madinah. Selama mereka dalam perjalanan, kaum muslimin telah menyelesaikan penggalian meski dengan segala keterbatasan waktu, tenaga, dan pangan. Parit sepanjang 8 km dengan lebar 4-6 m dan kedalaman 5,5 m menutup sempurna sisi utara Madinah. Sementara pasukan tersebut tidak bisa masuk lewat sisi lainnya karena dibentengi gunung dan pepohonan kurma.

Namun setelah berhasil menahan pasukan tersebut di luar Madinah, kaum muslimin tidak lantas dengan mudah memperoleh kemenangan. Mereka juga menerima serangan dari Yahudi di dalam Madinah yang melanggar perjanjian. Mereka mengepung rumah-rumah kaum muslimin dan mengancam akan memperkosa istri mereka atau membunuh anak mereka.

Mengenai keadaan ini, Al-Quran menggambarkan:

اِذْ جَاۤءُوْكُمْ مِّنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ اَسْفَلَ مِنْكُمْ وَاِذْ زَاغَتِ الْاَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوْبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ الظُّنُوْنَا۠ ۗ هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُوْنَ وَزُلْزِلُوْا زِلْزَالًا شَدِيْدًا

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat. (Al-Ahzab/33: 10-11)

Dalam keadaan mencekam seperti itulah dapat dibedakan mana yang benar-benar beriman dan mana yang bermain-main dalam keimanan. Orang-orang munafik pada saat itu berkata, “Semua yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita, seperti akan mendapat kemenangan, memperoleh kebahagiaan hidup, dan sebagainya, tidak lain hanyalah tipu daya dan janji-janji kosong saja, bahkan janji itu menimbulkan kesengsaraan dan malapetaka bagi kita semuanya. Muhammad mengatakan bahwa kerajaan Persia dan Romawi akan takluk ke bawah kekuasaan kaum Muslimin, tetapi kenyataannya sekarang, kaum Muslimin yang akan menaklukkan itu sedang dikepung rapat oleh tentara yang bersekutu dan akan mengalami kehancuran dan kemusnahan.”

Sementara orang yang benar keimanannya mengetahui bahwa pertolongan Allah amat dekat. Melalui Nu’aim bin Mas’ud dari Bani Ghathafan yang diam-diam masuk Islam, beliau berhasil memecah belah kaum Yahudi sehingga pengepungan terhadap kaum muslimin pun dihentikan. Sementara pasukan yang berkemah di luar Madinah mulai kehabisan bekal. Mereka kemudian kembali ke tempat masing-masing setelah diamuk angin topan. (33:9)

Perang Hunain

Berbeda dengan dua perang sebelumnya, kali ini pasukan kaum muslimin tidak kalah jumlah. Namun di situlah letak ujiannya.

Fanatisme jahiliyah suku Hawazin dan Tsaqif melatarbelakangi perang ini. Mereka merasa terancam setelah melihat kaum muslimin berhasil menaklukkan kota Mekkah. Mereka lalu sepakat menyerang Rasulullah ﷺ terlebih dahulu dengan mengumpulkan sebanyak 4000 pasukan. Setelah memastikan penyerangan tersebut, Rasulullah ﷺ lalu menyiapkan pasukan. Berangkatlah beliau bersama 10.000 pasukan dari Madinah, 2000 dari Mekkah, serta 80 musyrikin.

Adanya rasa bangga dalam diri kaum muslimin terhadap banyaknya jumlah pasukan membuat Rasulullah ﷺ marah. Padahal musuh mereka pada perang sebelumnya tidak memperoleh kemenangan dengan banyaknya pasukan mereka. Allah pun menunjukkan betapa kemenangan hanya bersumber dari-Nya. Disebabkan serangan musuh berasal dari celah-celah lembah Hunain, pasukan muslimin kocar-kacir untuk menghindar.

Teguran untuk mereka diabadikan dalam Al-Quran untuk menjadi pelajaran. Allah berfirman:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ . ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ . ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang- orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendakiNya. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (At-Taubah/9 : 25-27)

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari ketiga perang tersebut untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya peningkatan kualitas diri. Kekalahan pada perang Uhud mengajarkan bahwa menaati Rasulullah adalah kunci kemenangan serta jangan terpedaya dengan kesenangan dunia. Melalui perang Khandaq, Rasulullah mengajarkan untuk mengedepankan musyawarah, menjalankan hasilnya bersama-sama, dan meneguhkan keyakinan di tengah kesulitan bahwa pertolongan Allah sangat dekat.

Jika perang khandaq mengajarkan untuk tidak putus asa di tengah keterbatasan, perang Hunain mengingatkan untuk tidak sombong atas apapun yang dilebihkan. Hendaknya setiap muslim berpegang pada kalimat ‘laa haula wa laa quwwata illaa billaah’ bahwa tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dari Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ali Imran ayat 160,

“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”

Posted in Artikel and tagged , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published.