Sederhana Tapi Ngena! Nasihat Habib Alwi Assegaf dalam Acara Wisuda Maffaz Lughoh

“Barangsiapa yang ingin bertawassul dan ingin syafaatku kelak di hari kiamat maka ia harus mempererat hubungan dengan ahli baitku dan memberikan kebahagiaan kepada mereka.” (HR. Al-Dailami)

Kabar hadirnya kerunan Rasulullah ﷺ yaitu Habib Alwi Assegaf dalam acara wisuda Maffaz Lughoh tentu menambah kebahagiaan bagi para wisudawati. Keberkahan dari hadirnya beliau juga dirasakan oleh tokoh masyarakat, donatur, pengurus, serta santri Maffaz pusat yang memadati aula Gedung Maryam.

Mengawali sambutannya, Habib Alwi mengucapkan selamat kepada 22 wisudawati. Pemeran Raden Kian Santang itu mendoakan agar dengan ilmu yang sudah didapatkan, para wisudawati menjadi kebanggan untuk kedua orang tuanya.

Untuk menjadikan ilmu itu berkah, dalam waktu yang singkat itu, Habib Alwi menyampaikan beberapa nasihat. “Belajar ilmu itu harus ada ketawadhuan,” ujarnya, mengutip dari Kitab Ta’lim al-Muta’allim. Dengan tawadhu, tambah beliau, maka ilmu yang didapatkan bukan untuk pamer semata. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

مَنْ تَوَاضَعَ ِللهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ
“Siapa rendah hati karena Allah, maka Allah mengangkat (derajat)-nya; dan siapa sombong, maka Allah menyia-nyiakannya.” (HR Abu Nu‘aim)‎
Habib kelahiran 2006 itu kemudian memotivasi hadirin dengan menyampaikan hadits keutamaan menuntut ilmu. “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, kata Allah, akan dimudahkan jalannya menuju surga.” Semangat belajar para santri dan pengurus yang merantau jauh dari kampung halaman ini tentu bertambah setelah diingatkan dengan hadits tersebut.

Selanjutnya beliau mengingatkan akan sesuatu yang lebih utama daripada ilmu. Adab. “Orang yang beradab pasti berilmu,” tegas beliau. Sementara orang berilmu belum tentu beradab. Habib meminta agar hadirin memperhatikan akhlak terutama terhadap kedua orang tua dan guru.

Sebelum menutup, beliau mengutip Kitab Khuquna Akhlak Kita, karangan Habib Umar bin Hafidz, mengenai akhlak kepada Allah. Maksudnya, dimana pun kita berada dan apapun yang kita lakukan, tanamkan dalam diri bahwa Allah selalu mengawasi sehingga seseorang senantiasa dalam ketaatan.

“Ilmu itu tidak ada batasnya,” tutur beliau menyimpulkan. Untuk menambahkan keberkahan pada acara hari itu, beliau memandu hadirin bershalawat bersama.***

Posted in Kegiatan and tagged , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published.