Sejarah Adzan: Jalan Tengah dari Allah Biar Nggak Ganggu

Kita dibuat geleng-geleng kepala sama pernyataan yang baru-baru ini viral. Suara adzan yang merdu dan ngangenin itu dinilai mengganggu? Kalau kita ulik sejarah, panggilan sholat yang kita dengar hari ini adalah jalan tengah dari saran-saran sahabat nabi ketika berdiskusi.

Jadi gini, kewajiban sholat yang awalnya 50 waktu dipangkas menjadi 5 dalam peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi beberapa tahun sebelum hijrah. Berapa tahun tepatnya? Banyak perbedaan pendapat dalam hal ini. Yang pasti pada waktu itu belum ada panggilan yang menandakan waktu sholat telah tiba.

Setelah hijrah pun begitu. Para sahabat berkumpul di masjid sebelum waktu sholat dan langsung mulai sholat berjamaah begitu melihat tanda waktu seperti posisi matahari dan ukuran bayangan. Namun, seiring bertambahnya pemeluk islam, jarak rumah yang jauh dari masjid, dan kesibukan aktifitas sehari-hari membuat para sahabat mengusulkan agar dibuat panggilan sholat.

Ada dua usul yang diajukan. Pertama, menggunakan lonceng sebagaimana orang Nasrani. Kedua, menggunakan terompet seperti orang Yahudi.

Mari membayangkan jika salah satu usul itu dipakai hari ini. Dalam satu wilayah ada 5 masjid berdekatan dan masing-masing membunyikan lonceng atau terompet sebanyak 5 kali dalam sehari. Bunyinya sama, tidak ada nada, dan memekakkan telinga. Kalau begitu, wajarlah ada yang merasa terganggu dan protes.

Namun Allah memberikan jalan tengah. Melalui mimpi seorang sahabat, Abdullah bin Zaid bin Salabah dari Bani Al Harits suku Khazraj, beliau bercerita:

“Wahai Rasulullah, tadi malam dalam mimpi seseorang mengelilingiku, seorang laki-laki melewatiku, dia memakai dua kain hijau dan membawa lonceng di tangannya. Aku berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, apakah engkau akan menjual lonceng ini untukku?”

Lalu orang itu bertanya kepada Abdullah, “Apa yang akan engkau lakukan dengannya?”

“Kami menggunakannya untuk memanggil sholat,” jawabku dalam mimpi.

Maka orang itu berkata, “Maukah kau kutunjukkan yang lebih baik dari lonceng ini?”

“Apa itu?” tanyaku lagi.

“Lalu orang itu mengajarkan kepadaku kalimat, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Asyhadu anlaa ilaha illallaah, asyhadu anlaa ilaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadan rasuulullah, asyhadu anna Muhammadan rasuulullah. Hayya ‘alashshalaah, hayya ‘alashshalaah. Hayya ‘alalfalaah, hayya ‘alalfalaah. Allahu Akbar,  Allahu Akbar. Laa ilaaha illallaah,” tuturku.

Mendengar hal tersebut, Rasulullah yang sudah mendapatkan wahyu sebelumnya lantas bersabda, “Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar insyaallah, ajarkan kepada Bilal lafaz adzan itu agar dia yang azan, karena Bilal lebih nyaring dan lebih bagus suaranya darimu.”

Dilansir dari NU online, ada 4 alasan Bilal dipercaya untuk adzan. Selain (1) memiliki suara yang nyaring dan merdu. Bilal (2) memiliki kemampuan menghayati kalimat-kalimat adzan, (3) berdisiplin tinggi, dan (4) berani.

Ketika mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal, Umar bin Khattab datang dan mengatakan bahwa beliau juga mengalami mimpi serupa.

Memang pada saat itu belum ada pengeras suara, namun sejak awal adzan dikumandangkan dengan lantang. Sesuai asal katanya, adzan berarti telinga. Semakin lantang dan merdu, semakin banyak telinga yang mendengar dan hati yang tersentuh.***

 

 

Posted in Artikel and tagged , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published.