Jadi Hafidz Al-Qur’an Harusnya Malu!

Sufyan Ats-Tsauri (seorang ulama salaf), berkata: “Tidaklah aku menangani sesuatu yang lebih berat bagiku, kecuali niatku sendiri.”

Kata “Menghafal Al-Qur’an” sudah menjamur di seluruh muka bumi ini. Hanya dengan menyelesaikan hafalan 30 juz, maka gelar Al-Hafidz/ah pun tak segan disandangkan tepat di belakang namanya. Padahal, Al-Qur’an yang sudah kita hafal pun, belum tentu bisa dipertanggungjawabkan.

Pertanyaannya, “Apa tujuan kita menghafal Al-Qur’an?”

Sudah benarkah niat kita? Kalau niat kita benar, tentu kita tidak akan membutuhkan pengakuan apapun dari manusia, yang menunjukkan bahwa kita adalah seorang hafidz Al-Qur’an 30 juz.

Karena ijazah atau sertifikat lulus tes hafalan 30 juz sekalipun, tidak menjamin diterimanya semua amal kita di hadapan Allah. Mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz, juga bukan pertanda bebasnya kita dari siksaan dan ancaman dari Allah Swt.

Yang paling menentukan adalah NIAT. Mengapa?

“Sebesar apapun amal yang kita kerjakan, menjadi tak bernilai karena buruknya niat, dan sekecil apapun amal yang kita kerjakan, menjadi besar nilainya karena baiknya niat.” (Ibnu Mubarak)

Sahabat Maffadz, yuk perbaiki niat kita dalam menghafal. Jangan sampai, waktu kita terbuang sia-sia, lelah kita menjadi tak bernilai, hafalan kita pun tak bermanfaat, hanya karena rusaknya niat.

Perlu kita pahami, “Apa hakikat menghafal Al-Qur’an yang sebenarnya?”

Menghafal bukan sekadar mengingat dan menyimpan ribuan kata yang ada di dalam Al-Qur’an ke otak kita. Hafalan Al-Qur’an letaknya di hati, bukan di pikiran.

Menjadi penghafal Al-Qur’an, berarti menyatakan diri untuk siap menjaga Al-Qur’an, baik secara lafadz maupun makna. Menjadi penghafal Al-Qur’an, berarti menyerahkan diri sepenuhnya untuk patuh pada aturan-aturan yang telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an.

Menjadi penghafal Al-Qur’an, berarti berani mewakafkan diri untuk Al-Qur’an, membuktikan kecintaan kita dengan cara mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka yang belum paham.

Sahabat Maffadz sudah tau belum, nih?

Tidak ada metode khusus dalam menghafal Al-Qur’an. Al-Qur’an dihafal dengan cinta. Rasa cinta yang disertai dengan adab terhadapnya, akan memudahkan kita dalam menghafal.

Menghafal Al-Qur’an memang tidak menjamin diterimanya amal seseorang, namun jika menghafal Al-Qur’an dengan niat ingin mendapat ridho Allah semata, insyaAllah akan menjadi wasilah kita dalam meraih derajat taqwa.

Seharusnya kita malu, sudah lancar bacaan Al-Qur’annya, tapi tilawahnya masih sama dengan mereka yang baru belajar tahsin. Harusnya kita malu, memiliki hafalan 10 juz, tapi shalatnya masih sama dengan anak umur 9 tahun. Harusnya kita malu, sudah menyimpan sertifikat 30 juz, tapi masih suka lalai dalam hal murajaah.

Sadar! Kita adalah penghafal Al-Qur’an. Setiap penghafal Al-Qur’an punya kewajiban atas Al-Qur’an yang sudah dihafal.

Alasan apa yang akan kita jelaskan dihadapan Allah kelak? Ingat, semuanya akan dipertanggungjawabkan. Yuk perbaiki!

Posted in Artikel and tagged , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published.